Akselerasi Amal dan Transformasi Sosial

Oleh Syafi’ur Rahman

Kabartabligh.com – Ramadhan bukan bulan biasa. Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Para ulama klasik hingga cendekiawan kontemporer memandang Ramadhan sebagai momentum akselerasi, lonjakan spiritual yang melejitkan jiwa dan potensi seorang mukmin.

Pandangan Ibnu Katsir terhadap QS. Al-Baqarah: 185 menarik untuk di telisik, bahwa Ramadhan bukan sekedar bulan turunnya Al-Qur’an, Ia seperti “grand launching” peradaban Islam yang maju dan berkeadaban. Wahyu telah turun, petunjuk arah hidup manusia menjadi terarah, membuang semua hambatan yang mendistraksi manusia dari jalan tuhannya. 

Ibnu katsir menegaskan tentang Lailatul Qadar, bahwa satu malam lebih baik dari seribu bulan, amal satu malam lebih istimewa daripada amal selama 83 tahun.

Malam itu amal mengalami multiplikasi secara massal dan eksponensial. Di luar Ramadhan, amal tampak receh dihadapan lailatul qodar. Malam spesial itu menjadi momentum investasi amal terbaik dan menjanjikan profit tanpa batas.

Dalam perpektif lain, Ibnu Taimiyah menilai puasa bukan sekedar momentum menumpuk pahala, tetapi lebih esensial lagi adalah momentum rekayasa jiwa.

Dalam karya fenomelanya, Majmu’ Fatawa, di jelaskan bahwa puasa mendegradasi dominasi syahwat dan memperkuat sistem kendali dalam diri seorang mukmin. Selama Ramadhan terjadi proses detoksifikasi spiritual secara besar-besaran. Kehidupan manusia diera kekinian dibanjiri arus deras notifikasi, scrolling medsos tanpa jeda dan tanpa henti, dan manusia keranjingan dopamine instan yang diproduksi melalui media sosial.

Dalam kondisi itulah puasa melatih kita untuk mengambil alih kendali penuh pada diri kita sendiri. Seorang yang berpuasa berani tegas berkata “Tidak sekarang”. Puasa mengajarkan latihan delayed gratification, yaitu menunda kesenangan sesaat. 

Benar adanya bahwa puasa menjanjikan 2 kebahagiaan, yang didapatkan setelah menunda sekitar 14 jam untuk kemudian berbuka, juga puncak kebahagiaan manakala tiba masa bersua kepada Alloh di akhirat nanti.

Hasil riset psikologi modern menunjukkan bahwa kemampuan menunda kesenangan berkorelasi kuat dengan kesuksesan seseorang dalam jangka panjang. Islam sudah menciptakan kurikulum sukses melalui puasa sejak 14 abad silam. Ramadhan adalah success bootcamp gratis selama 1 bulan.

Lebih dalam lagi, Ibnu Qayyim al-Jawziyya memandang puasa sebagai ibadah paling prifat. Ibadah rahasia antara seorang hamba dengan tuhannya. Kualitas sejati puasa seorang hamba hanya diketahui oleh Alloh semata.

Dalam Madarijus Salikin, ia menggambarkan perjalanan ruhani seperti naik tangga step by step, maqam demi maqam. Dalam hal ini Ramadhan berfungsi sebagai lift yang mempercepat eskalasi dan akselerasi menuju puncak tangga tertinggi menuju keharibaan ilahi robbi. 

Ramadhan bukan hanya menghimpun kuantitas amal secara maksimal, tapi meng-upgrade kualitas jiwa yang suci, bersih, tanpa noda dan layak untuk dekat bersanding dengan sang tuhan. Ramadhan mereformasi hati yang mudah bimbang menjadi hati yang tenang.

Dari ibadah yang diangap beban menjadi ibadah yang dijadikan kebutuhan. Ramadhan berfungsi sebagai terapi ruhani kolektif di era maniusia mudah burnout, overthinking, dan anxiety berlebih-lebihan. Ramadhan menyucikan jiwa agar beruntung karena senantiasa bersih dari noda dan dosa.

Akselerasi jiwa dalam perspektif gerakan sosial ala Ahmad Dahlan terasa lebih aplikatif dan nyata. Ia memaknai ibadah tidak boleh hanya berhenti pada sajadah. Ramadhan memicu lahirnya aksi nyata.

Puasa yang sejati melahirkan kepedulian sosial yang tinggi. Riset di bulan Ramadhan menunjukkan bahwa donasi masyarakat Indonesia meningkat tajam selama Ramadhan. Lembaga filantropi nasional melaporkan terjadi lonjakan tajam hasil penghimpunan dana hingga berkali lipat selama Ramadhan.

Ini bukti bahwa spiritualitas ketika disentuh momentum Ramadhan bisa berubah menjadi energi sosial. Ramadhan menjadi ajang kampanye “sharing” kebaikan. Ahmad Dahlan melihat potensi Ramadhan dapat memicu lahirnya umat yang progresif berkarya dan menebar manfaat bagi masyarakat.

Fondasi teologis puasa Ramadhan bukan sekedar pelipatgandaan pahala dan penyucian jiwa. Ramadhan juga relevan menjawab isu kesehatan mental, solidaritas sosial, bahkan produktivitas kolektif masyarakat komunal. Ia mengalami eskalasi dan percepatan dari hari pertama hingga akhir Ramadhan.

Laju perubahan amal dan transformasi sosial berlangsung cepat. Perubahan kecepatan terhadap waktu awal dan akhir menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan percepatan (akselerasi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *