Bahaya Namimah: Lisan yang Menutup Pintu Surga dan Mengundang Siksa Kubur
Kabartabligh.com – Mengadu domba atau dalam istilah Islam dikenal dengan namimah bukanlah dosa ringan yang bisa dianggap sepele. Dalam kajian kitab Riyadhus Shalihin oleh ust Drs H Suhadi M Sahli MAg yang digelar di Masjid Al-Muhajirin, Jojoran, Surabaya, Sabtu (3/1/2026) jamaah diingatkan bahwa perilaku provokatif ini termasuk dosa besar yang mendapat ancaman keras dari Rasulullah SAW, bahkan hingga mengundang siksa kubur dan menghalangi pelakunya dari surga.
Ustadz Suhadi menjelaskan bahwa namimah adalah perbuatan menyampaikan perkataan, pesan, atau informasi dari satu pihak ke pihak lain dengan tujuan merusak hubungan, menimbulkan permusuhan, dan memecah persaudaraan.
“Pelaku namimah itu bukan sekadar menyampaikan berita, tetapi memiliki niat merusak. Ia senang melihat orang lain berselisih,” jelasnya di hadapan jamaah.
Menurutnya, bahaya namimah di era digital justru semakin mengkhawatirkan. Jika dahulu dilakukan secara lisan, kini praktik adu domba sangat mudah menyebar melalui tulisan, tangkapan layar, potongan chat, hingga unggahan provokatif di media sosial seperti WhatsApp, Facebook, dan platform digital lainnya.
Ustadz Suhadi mengutip hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Lā yadkhulul jannata nammām.”
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ancaman ini, lanjutnya, menunjukkan betapa seriusnya dosa namimah. Bahkan, balasannya tidak hanya ditangguhkan di akhirat, tetapi bisa dirasakan sejak di alam kubur. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW pernah melewati dua kuburan dan bersabda bahwa kedua penghuninya sedang disiksa; salah satunya karena tidak menjaga diri dari najis kencing, dan yang lainnya karena kebiasaannya melakukan namimah.
Selain membahas bahaya lisan, kajian ini juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesempurnaan bersuci, khususnya saat buang air kecil. Menyepelekan istinja, kencing sembarangan, atau tidak membersihkan najis dengan baik termasuk sebab datangnya siksa kubur.
“Islam itu agama yang sangat memperhatikan kebersihan, bahkan dalam perkara yang sering dianggap sepele,” tegas Ustadz Suhadi.
Jamaah diimbau untuk memastikan istinja dilakukan dengan sempurna, baik menggunakan air maupun benda padat seperti tisu dalam kondisi darurat, sesuai tuntunan syariat.
Menanggapi realitas media sosial yang sarat konflik dan provokasi, Ustadz Suhadi mengajak umat Islam untuk bersikap bijak dan dewasa. Jika menemukan indikasi adu domba dalam grup percakapan, langkah terbaik adalah menasihati secara pribadi (japri) dengan cara yang baik. Bila tidak mampu berkata baik, maka diam adalah pilihan yang paling selamat.
“Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam,’” pungkasnya.
Kajian ini ditutup dengan pesan moral agar umat Islam senantiasa menjaga ukhuwah, memperkuat persaudaraan, serta memastikan lisan dan jempol digital tidak menjadi alat perpecahan umat. Di tengah derasnya arus informasi, setiap Muslim dituntut lebih berhati-hati agar tidak terjerumus dalam dosa yang merusak amal dan mengundang murka Allah SWT.
Penulis Imam Sapari

