Jufri Mustafa Ingatkan Bahaya “Umat yang Tertidur” dan Pentingnya Menyiapkan Generasi Masjid
Kabartabligh.com –
Ust Jufri Mustafa Ketua KMM Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya kembali mengingatkan pentingnya kesadaran dakwah dan kesinambungan iman lintas generasi di tengah tantangan zaman. Pesan tersebut disampaikan dalam sesi tausiyah Shubuh kepada peserta kegiatan Rakor Majelis Tabligh, Sabtu (17/1/2026) usai qiyamul lail dan shalat Subuh berjamaah.
Dalam tausiyahnya, Jufri mengajak seluruh peserta untuk bersyukur karena masih dibangunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di sepertiga malam terakhir, waktu yang mulia untuk bermunajat dan menuntut ilmu. Ia menegaskan bahwa ilmu yang dipelajari dengan niat yang benar akan bernilai ibadah di sisi Allah.
“Pagi ini kita berkumpul, bersujud, dan mengingat kembali mana yang benar dan mana yang batil, agar kita istiqamah di jalan Baginda Rasulullah ﷺ hingga akhir hayat,” ujarnya.
Manusia yang “Tertidur” dari Kebenaran
Pemateri mengutip nasihat sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yang menggambarkan kondisi manusia yang lalai terhadap kebenaran:
النَّاسُ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا
“Manusia itu tertidur, ketika mereka mati barulah mereka terbangun.”
Menurutnya, banyak manusia menolak kebenaran bukan karena kebenaran itu lemah, melainkan karena kebenaran menjanjikan sesuatu yang gaib, surga dan neraka. Hal ini menuntut keberanian iman dan kesungguhan dakwah.
“Tantangan dakwah hari ini sangat berat. Kebenaran sering kalah menarik dibandingkan hiburan dan kenyamanan dunia,” tegasnya.
Kekhawatiran Orang Tua dan Keberlanjutan Iman Anak
Salah satu penekanan utama dalam tausiyah tersebut adalah kekhawatiran terhadap keberlanjutan iman generasi penerus, khususnya anak-anak para aktivis dakwah. Fenomena orang tua yang aktif berdakwah, tetapi anak-anaknya justru menjauh dari masjid dan nilai Islam, menjadi keprihatinan serius.
Jufri mengaitkan hal ini dengan kisah Nabi Ya’qub ‘alaihis salam yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’”
(QS. Al-Baqarah: 133)
Ayat ini, menurutnya, menunjukkan betapa besar perhatian seorang nabi terhadap iman anak-anaknya, bahkan hingga detik-detik terakhir kehidupannya.
Masjid Kalah Menarik dari Warung Kopi
Fenomena sosial lain yang disorot adalah menurunnya daya tarik masjid bagi generasi muda. Masjid yang megah, bersih, ber-AC, bahkan menyediakan fasilitas gratis, sering kali kalah ramai dibandingkan warung kopi dan tempat nongkrong.
“Ini harus menjadi bahan muhasabah kita bersama. Jangan sampai masjid sepi jamaah dan kehilangan generasi penerus,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa jangan merasa tidak membutuhkan anak-anak muda, karena merekalah yang kelak akan melanjutkan kepemimpinan, mengurus masjid, bahkan memandikan jenazah para pendahulunya.
Belajar dari Sejarah: Jangan Ulangi Kejatuhan Peradaban
Dalam penutupnya, Jufri mengingatkan jamaah untuk belajar dari sejarah. Kejayaan Islam di Cordoba, Spanyol, yang bertahan lebih dari enam abad, kini hanya tinggal cerita karena umat lalai menyiapkan generasi.
Ia juga menyinggung keteladanan tokoh bangsa dan ulama, seperti hubungan Bung Karno dan Buya Hamka, sebagai bukti bahwa dakwah dan keilmuan memiliki peran besar dalam sejarah umat dan bangsa.
“Jangan sampai suatu saat orang berkata: ‘Muhammadiyah pernah berjaya di Surabaya, kapan ya? Dulu sekali.’ Itu bisa terjadi jika kita lalai menyiapkan kader dan generasi masjid,” tegasnya.
Menyiapkan Generasi yang Terbangun
Majelis Tabligh PDM Surabaya berharap kegiatan ini menjadi pengingat dan penyemangat bagi para dai, takmir masjid, dan aktivis Muhammadiyah agar lebih serius membina generasi muda, menghadirkan masjid yang ramah, dan menguatkan dakwah yang membangunkan umat dari “tidur panjangnya”.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Dengan kesadaran dan kerja bersama, dakwah diharapkan terus berlanjut dan masjid tetap menjadi pusat peradaban umat hingga akhir zaman.
Penulis Syahroni Nur Wachid

