Kesetiaan Penuh Kepalsuan: Ketika “Setia” Hanya Menjadi Komoditas

Kabartabligh.com – Kesetiaan Penuh Kepalsuan: Ketika “Setia” Hanya Menjadi Komoditas

Oleh: [Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I]

Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya – Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ‏”‏ ‏.‏ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ سُفْيَانَ ‏”‏ وَإِنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ ‏”‏ ‏

Dari Abdullah bin ‘Amr, bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda: “Ada empat karakteristik, siapa yang memiliki semuanya adalah munafik yang murni, dan siapa yang memiliki salah satu dari karakteristik tersebut, maka ia memiliki salah satu karakteristik dari kemunafikan, sampai ia meninggalkannya: Ketika ia berbicara ia berdusta, ketika ia membuat perjanjian ia mengkhianatinya, ketika ia berjanji ia mengingkarinya, dan ketika ia berselisih ia menggunakan kata-kata yang kotor.” Dalam riwayat Sufyan (salah satu perawi) disebutkan: “Dan jika ia memiliki salah satu dari karakteristik tersebut, maka ia memiliki salah satu karakteristik dari kemunafikan.” (HR. Muslim No. 58)

 

Analisis Fenomena: Kesetiaan dalam Topeng

  1. Kesetiaan Transaksional (Ghadar)

Dalam teks hadits digunakan kata “Ghadara” (غَدَرَ) yang berarti membatalkan janji atau kesepakatan secara sepihak demi keuntungan pribadi. Inilah “Kesetiaan Transaksional”. Banyak orang hari ini terlihat setia karena posisi, harta, atau popularitas seseorang. Begitu keuntungan hilang, kesetiaan itu menguap. Inilah ciri kemunafikan karena dasarnya bukan ketulusan, melainkan perhitungan laba-rugi.

  1. Kepercayaan yang Dikomersialkan (Khana)

Kata “Khana” (خَانَ) atau khianat muncul saat seseorang diberi amanah. Di era digital, rahasia dan kepercayaan sering kali dijual demi konten atau demi merapat ke pihak yang lebih kuat. Kesetiaan palsu membuat seseorang berani menggunakan “kartu as” temannya sendiri untuk menjatuhkannya di kemudian hari.

  1. Kesetiaan “Muka Dua”

Hadits ini menutup dengan perilaku saat berselisih Fajara (فَجَر). Orang yang kesetiaannya palsu, ketika sedikit saja ada konflik, ia akan membongkar semua aib dan berlaku sangat kejam. Ini membuktikan bahwa kesetiaan yang ia tunjukkan selama ini hanyalah topeng untuk menutupi sifat aslinya.

 

Mengapa Kesetiaan Menjadi Mahal?

Krisis Integritas di Balik Layar

Kesetiaan menjadi palsu ketika manusia lebih takut kehilangan “muka” di depan publik daripada kehilangan “kepercayaan” di hadapan Allah. Kita hidup di zaman di mana citra sebagai “orang setia” lebih penting daripada menjadi “orang yang benar-benar setia”.

 

Tauhid yang Rapuh

Kenapa orang berani palsu dalam kesetiaan? Karena mereka merasa “aman” selama manusia tidak tahu. Mereka lupa bahwa Allah adalah Ar-Raqib (Maha Mengawasi). Kesetiaan palsu adalah bentuk keraguan pada keadilan Tuhan; mereka merasa harus berbohong dan berkhianat untuk bertahan hidup.

 

Solusi Pembaharuan: Membangun Kesetiaan di Atas Iman

  1. Setia karena Prinsip (Lillah):Seorang mukmin setia karena nilai kebenaran. Jika keuntungannya hilang, kesetiaannya tetap tinggal karena ia melakukannya karena Allah, bukan karena orang tersebut.
    1. Integritas dalam Kesunyian:Ujilah kesetiaanmu saat orang yang kau dukung tidak ada di tempat. Menjaga nama baiknya di saat ia tidak melihat adalah bukti kesetiaan yang orisinal.
    2. Berani Jujur:Kesetiaan sejati tidak selalu berarti “menyenangkan”. Kadang, kesetiaan adalah berani menegur sahabat agar tidak terjerumus, meski taruhannya adalah kenyamanan hubungan.

 

Dunia ini sudah cukup penuh dengan kepalsuan; jangan menambah daftar itu dengan menjadi pengkhianat yang bersembunyi di balik kata “setia”. Jadilah sosok yang “mahal” harganya; yang kata-katanya adalah jaminan, dan yang kesetiaannya adalah karakter, bukan strategi marketing.

 

Pada akhirnya, bukan seberapa banyak orang yang memuji “loyalitas” kita di media sosial, tapi seberapa jujur catatan amal kita di hadapan Allah saat semua topeng dunia ini dilepaskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *