Lebaran Bukan Sekadar Silaturahmi: Ini Cara Menanamkan Adab Qur’ani pada Anak Saat Bertamu

Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I
(Ketua Majelis Tabligh PDM – Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya)



Kabartabligh.com – Momen Idul Fitri sering dimaknai sebagai kemenangan spiritual setelah sebulan berpuasa. Namun bagi para orang tua dan pendidik, Lebaran sejatinya adalah “laboratorium adab” paling nyata.

Di sinilah teori akhlak yang diajarkan di rumah diuji langsung: saat anak bertemu kerabat, berkunjung ke rumah saudara, hingga berinteraksi dengan orang yang lebih tua.

Landasan utama dalam membangun adab ini adalah perintah Allah SWT:

 وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua dan kerabat…”
(QS. An-Nisa: 36)



Agar momen silaturahmi bernilai ibadah sekaligus pendidikan karakter, berikut panduan praktis menanamkan adab bertamu kepada anak:



1. Adab Dasar: Izin dan Salam Sebelum Masuk

Ajarkan anak bahwa rumah orang lain adalah ruang privat yang harus dihormati.

Allah SWT berfirman:
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam…”
(QS. An-Nur: 27)



Latih anak untuk:

Mengetuk pintu maksimal tiga kali

Mengucapkan salam dengan lembut

Menunggu izin sebelum masuk


Ini adalah fondasi akhlak sosial yang sering dianggap sepele, padahal sangat penting.



2. Menghormati yang Lebih Tua: Lebih dari Sekadar Formalitas

Di era digital, adab tatap muka menjadi semakin langka. Maka momen Lebaran adalah kesempatan emas melatihnya.

Rasulullah SAW bersabda:

 لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”
(HR. Tirmidzi & Ahmad)



Ajarkan anak untuk:

Menatap wajah saat bersalaman

Mencium tangan sebagai bentuk penghormatan

Memahami batasan mahram dan non-mahram


Jangan biarkan adab hanya menjadi rutinitas tanpa makna.



3. Etika Bertamu: Tamu Beradab, Tuan Rumah Bahagia

Rasulullah SAW bersabda:

 “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari & Muslim)



Jika tuan rumah memuliakan kita, maka kita wajib menjaga adab sebagai tamu.

Ajarkan anak untuk:

Mengambil makanan secukupnya

Tidak memilih-milih secara berlebihan

Tidak terlalu lama hingga merepotkan


Sebagaimana pesan Nabi:

 “Makanlah dari yang dekat denganmu…” (HR. Bukhari)



4. Amplop Lebaran: Latihan Syukur, Bukan Ajang Pamer

Tradisi amplop Lebaran sangat dinanti anak-anak. Namun di sinilah pendidikan hati dimulai.

Rasulullah SAW bersabda:

 “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari & Muslim)



Ajarkan anak untuk:

Mengucapkan terima kasih dan mendoakan pemberi

Tidak membuka amplop di depan umum

Tidak meminta jika tidak diberi


Tanamkan bahwa tujuan utama berkunjung adalah silaturahmi, bukan materi.



5. Menjaga Lisan: Kunci Langgengnya Silaturahmi

Sering kali, suasana kumpul keluarga justru menjadi ajang obrolan tanpa kontrol.

Padahal Rasulullah SAW mengingatkan:

 لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.”
(HR. Bukhari & Muslim)



Latih anak untuk:

Berkata baik atau diam

Tidak menyela pembicaraan orang tua

Tidak bercanda berlebihan




Penutup: Anak Belajar dari Apa yang Kita Lakukan

Keteladanan (uswah) adalah kunci utama. Anak bukan hanya mendengar, tapi meniru.

Jika mereka melihat orang tuanya:

Menghormati orang tua

Bersikap santun saat bertamu

Menjaga lisan dan sikap


Maka tanpa banyak perintah, mereka akan mengikuti.



Lebaran: Dari Pamer Baju ke Panen Akhlak

Mari ubah cara pandang kita.

Lebaran bukan sekadar ajang:

Pamer baju baru

Kunjungan tanpa makna

Tradisi tanpa nilai


Tetapi jadikan sebagai Momen memanen akhlak Qur’ani  Investasi karakter anak masa depan

Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi pemimpin yang Qur’ani, tangguh, cerdas, dan berakhlak mulia.

Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *