Mengatasi Midlife Crisis

Kabartabligh.com – Ada fase hidup ketika usia masih muda, energi masih menyala, mimpi masih berapi-api tancap gas gigi lima mengejar ambisi menuju puncak piramida sukses dunia. Hidup semakin menyala dengan karier yang melejit, jejaring relasi luas, cuan mengalir deras. Hidup terasa nyaman dan masa depan tampak asyik penuh spotlight.


Di sela gegap gempita dan euforia itu, ada suara sunyi yang berbisik perlahan: untuk apa semua ini? hidup ini mau dibawa kemana? akankah jalan ini bermakna?

Psikolog modern menyebutnya midlife crisis, fase kebingungan arah, kecemasan masa depan, kegelisahan eksistensial, dan mempertanyakan kembali makna dan arah tujuan. Fase yang kerap menghempas jiwa di usia 40-55 tahun.


Dalam perspektif Islam, kegelisahan ini bukan sekadar krisis usia, melainkan krisis orientasi jiwa. Manusia memang semakin terkoneksi dengan dunia digital, namun jiwanya semakin kering dan terputus koneksi dari server spiritual.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa setting default hati manusia diciptakan untuk mengenal Allah. Jika hati diisi selain-Nya secara berlebihan, maka ia akan gelisah, kering dan terus bergemuruh. Hati tidak pernah kenyang dengan prestasi dunia, ia akan tenang manakala dekat Alloh sang penciptanya.


Di sinilah Ramadhan hadir, ia bukan sekadar bulan puasa, tetapi bulan Al-Qur’an. QS. Al-Baqarah ayat 185 menghentak nalar kita bahwa Ramadhan bukan hanya soal menahan makan dan minum. Ramadhan membawa pesan untuk kita serius memanifestasikan Al-Qur’an.

Pesan eksplisitnya bahwa Ramadhan mengajak kembali untuk sadar bahwa roadmap dunia akhirat itu adalah Al-Qur’an. Ibadah puasa adalah badannya, namun Al-Qur’an adalah jantungnya. Manual book itu juga Alloh sebut sebagai obat bagi hati dan jiwa.


Hasan Al-Basri pernah berkata bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, bukan sekadar dibaca. Al-Qur’an sebagai referensi utama keputusan hidup. Ia adalah hudan linnas, peta jalan bagi manusia. Imam Syafi’i meyakini bahwa Al-Qur’an adalah sumber kecerdasan ruhani.


Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri menggambarkan bagaimana Al-Qur’an membentuk generasi sahabat menjadi generasi terbaik. Mereka hidup dalam tekanan, embargo ekonomi, bahkan ancaman pembunuhan, namun hati mereka kokoh karena terikat dengan Alloh dan Al-Qur’an.

Jika generasi sahabat mampu bangkit dari kegelapan jahiliyah menuju peradaban gemilang melalui Al-Qur’an, maka kegelisahan midlife crisis pun sejatinya bisa menemukan jawabannya di sana.
Rosulullah di usia midlife memulai babak baru penuh tantangan.

Di usia 40 tahun beliau di daulat sebagai Rosul akhir zaman. Mengemban misi nubuwah, beliau mendedikasikan jiwa, raga, dan hartanya untuk melayani umat, menebarkan cahaya islam ke sepenjuru alam. Meneladani Rosulullah sebagai role model umat islam, selayaknya kita menempuh jalan nubuwah pula. Fokus dalam misi dakwah apapun profesi dan kompetensi yang dimiliki.

Satu barisan dengan rosulullah, mengibarkan panji dakwah mengawal tegaknya kalimatullah.
Momentum itu bernama Ramadhan. Ia menjadi momen reset total. Ia menghentikan rutinitas konsumtif dan mengajak kita masuk ke ruang hening. Saat membaca dan menghayati Al-Qur’an, kita seperti bercermin dan melihat siapa diri kita sebenarnya.


Mumpung Ramadhan, dekati dan pahami Al-Qur’an. Tidak sekedar dibaca oleh lisan, Namun diresapi dan dihayati secara mendalam dengan akal dan hati. Pesan tersirat dan tersurat dalam Al-Qur’an di manifestasikan dalam amal dan perbuatan. Temukan kembali jalan hidup. Gunakan Al-Qur’an sebagai roadmap untuk melaksanakan misi utama menjadi hamba dan khalifah Alloh di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *