Meraih Takwa, Membangun Manusia
Meraih Takwa, Membangun Manusia
Oleh Syafi’ur Rahman
Kabartabligh.com – Kehidupan modern memberi kemudahan luar biasa berupa teknologi canggih, konektivitas tanpa batas, dan peluang serta jejaring yang luas. Tetapi di balik semua kemajuan itu, terjadi keretakan fondasi kehidupan manusia. Modernisasi menggerus nilai kehidupan, membawa manusia pada ilusi kehidupan ideal yang serba dangkal. Mereka terjebak dalam kubangan nafsu dan syahwat dunia, tanpa sadar mereka telah menafikan dua misi agung penciptaan sebagai Abdun dan Khalifah akibat terjadinya salah arah kompas tujuan hidup.
Kehidupan ibarat bangunan. Untuk tegak berdiri ia butuh kekuatan, kekuatan bangunan itu terletak pada fondasinya. Semakin kokoh fondasi, maka semakin tegak dan kuat bangunan itu. Sebaliknya, semakin rapuh fondasi maka bangunan semakin rentan runtuh. Fondasi kehidupan itu adalah takwa.
Dalam QS. At-Taubah: 109 Allah melontarkan pertanyaan “Apakah orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan ridha-Nya lebih baik, atau orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunan itu roboh bersamanya ke dalam Neraka Jahanam?”.
Pesan dalam At-Taubah: 109 bukan sekadar perumpamaan tentang bangunan fisik. Ini adalah metafora tentang kehidupan layaknya sebuah bangunan. Pertanyaannya bukan seberapa tinggi bangunan menjulang, tetapi di atas apa ia didirikan.
Allah menegaskan bahwa fondasi bangunan kehidupan terbaik adalah takwa. Tanpa takwa ibarat mendirikan bangunan dengan fondasi rapuh, bangunannya didirikan di tepi jurang yang sewaktu-waktu pasti tumbang.
Hari ini, kerusakan hidup manusia tidak selalu terlihat dalam bentuk kehancuran fisik. Ia sering muncul dalam bentuk kehancuran batin. Penyakit-penyakit mental bermunculan. Ada penyakit kehampaan makna (existensial emptiness) ketika manusia memiliki segalanya tapi serasa kosong tanpa makna.
Ada gangguan kecemasan berlebihan (chronic anxiety) karena kegelisahan terus menerus akibat tekanan hidup dan ketidakpastian masa depan. Ada yang mengalami krisis identitas sehingga tidak mengenal diri sendiri, tidak tahu tujuan hidup dan kemana ia akan kembali. Bahkan ada yang mengalami kesepian yang amat sangat meski berada dalam keramaian (loneliness).
Data global menunjukkan peningkatan tajam gangguan kesehatan mental. Depresi, kecemasan, dan krisis identitas meningkat, bahkan di negara-negara paling maju sekalipun. Lebih jauh runtuhnya bangunan kehidupan juga berdampak pada rusaknya perilaku manusia.
Perilakunya aneh dan terkesan paradoks. Anomali perilaku ini tampak pada aksi korupsi yang dilakukan oleh orang yang kaya dan terdidik, tokoh agama menjual agama demi dunia, bersenang-senang dari menjarah hasil alam sambil menyaksikan orang lain menderita akibat bencana alam, dan seabrek anomali anomali lainnya. Al-Qur’an menyebut kondisi ini sebagai kesesatan yang tidak disadari: “Mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya, padahal sia-sia.” (QS. Al-Kahfi: 104).
Peran fondasi menjadi vital, membangun fondasi yang kuat meski sedikit terlambat itu penting meski sudah darurat. Letak fondasi takwa itu berada di dalam hati, pusat energi penggerak kehidupan manusia. Rasulullah bersabda: “Dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh rusak. Itulah kalbu.” Kalbu adalah pusat kehidupan.
Dari sanalah lahir keputusan, niat, dan arah hidup. Kalbu yang hidup oleh takwa akan melahirkan cahaya dan ketenangan. Kalbu yang mati oleh dosa akan melahirkan kegelapan dan kehampaan. Dengan menata ulang hati berarti membangun ulang fondasi kehidupan.
Kalbu adalah pusat episentrum energi takwa. Dari kalbulah lahir keputusan hidup. Kalbu yang bersih disebut nurani, karena ia memancarkan cahaya petunjuk. Allah menegaskan bahwa manusia telah diberi potensi untuk mengenali jalan takwa dan jalan dosa.
Dan beruntunglah orang yang menyucikannya sebagaimana Allah sampaikan di QS. Asy-Syams: 8-9. Namun, jika hati dibiarkan bergelimang dosa, ia menjadi gelap dan berkarat, sehingga kejahatan tampak seperti kebaikan dan kebaikan bisa tampak sebaliknya. Dari kalbu yang gelap gulita inilah bermula kehancuran bangunan kehidupan manusia.
Urgensi mengelola hati menempati prioritas tinggi. Bersihkan hati dari segala kesyirikan, hapus semua file kemunafikan, buang jauh-jauh pikiran culas, kubur semua syak wasangka terhadap Allah dan Islam. Dengan hati yang bersih, cahaya ilmu dan hidayah akan mudah diterima. Rasulullah memberikan panduan bagaimana menjaga hati tetap bersih.
Kata Rasulullah: ”Sesungguhnya hati itu bisa berkarat sebagaimana besi berkarat.” Para sahabat bertanya, “Apa pembersihnya?”. Beliau menjawab, “Banyak mengingat Allah dan membaca Al-Qur’an.”. Semoga hati kita tetap bersih terjaga dari noda dosa sehingga beroleh takwa. Karena sebaik-baik bekal adalah takwa QS. Al Baqarah : 197. Allohu A’lam.

