Tuhan atau Algoritma dan Pencarian Jejak Orang Sholeh di Era Post-Truth
Tuhan atau Algoritma dan Pencarian Jejak Orang Sholeh di Era Post-Truth
Oleh : Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I
Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya – Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya
Kabartabligh.com – Pernahkah Anda menyadari bahwa ujian iman terbesar saat ini bukan lagi di mimbar-mimbar terbuka, melainkan di genggaman tangan? Di era post-truth di mana kebenaran sering kali dikalahkan oleh viralitas, kita sedang menghadapi fenomena baru: Ujian Kesholehan Sunyi.
Bagi orang-orang sholeh, aqidah bukan sekadar hafalan teks teologi yang statis. Ia adalah “perisai tak kasat mata” yang bekerja paling kuat justru saat layar ponsel menyala dan tidak ada orang lain yang melihat.
Tauhid dan Kemerdekaan dari Perbudakan Digital
Di dunia digital, manusia sering kali tanpa sadar menjadi “hamba” bagi perhatian sesama. Kita merasa cemas saat postingan sepi dan merasa besar kepala saat dipuja. Di sinilah Tauhid bekerja sebagai pembebas mental. Orang sholeh memahami bahwa rida Allah adalah satu-satunya tujuan yang tidak mengenal inflasi.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT melalui QS. Al-An’am: 162:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.'”
Bagi mereka, aktivitas digital adalah sarana menebar manfaat, bukan ajang memanen sanjungan. Mereka lebih memilih “viral” di langit daripada sekadar menjadi tren sesaat di bumi.
Ihsan sebagai Filter yang Melampaui Sensor Manusia
Tantangan terbesar internet adalah rasa aman palsu di balik anonimitas. Banyak orang berani mencaci atau bermaksiat karena merasa identitasnya tersembunyi. Namun, aqidah yang kokoh menghidupkan konsep Ihsan kesadaran bahwa ada “Mata” yang jauh lebih teliti daripada algoritma mana pun.
Rasulullah ﷺ memberikan standar moral yang luar biasa dalam haditsnya:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Bagi orang sholeh, setiap inci layar adalah “sajadah”. Mereka sadar bahwa Allah menyaksikan setiap kata yang diketik, setiap video yang ditonton, hingga setiap niat di balik tombol share.
Menahan Jempol sebagai Bentuk Ibadah Modern
Internet hari ini adalah lautan informasi yang gaduh. Sering kali, kita merasa harus mengomentari segala hal agar dianggap “eksis”. Namun, aqidah yang lurus mengajarkan bahwa integritas seseorang tercermin dari bagaimana ia menjaga lisannya termasuk tulisan di media sosial.
Sebagaimana pesan Rasulullah ﷺ yang sangat relevan dengan budaya netizen saat ini:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)
Menjadi Asing di Dunia Namun Terkenal di Arsy
Pada akhirnya, indikasi terbaik dari aqidah orang sholeh di era digital bukan terletak pada seberapa banyak pengikutnya, melainkan seberapa konsisten ia menjaga adabnya saat sendirian bersama gawainya.
Dunia digital mungkin bising dan penuh kepalsuan, namun bagi mereka yang memiliki “jangkar” iman yang kuat, teknologi hanyalah alat untuk memantulkan kemuliaan akhlak.
Mereka adalah orang-orang yang sibuk memperbaiki “status” di hadapan Allah, meskipun di mata algoritma dunia mereka mungkin bukan siapa-siapa.

