Tuntaskan Qiyamu Ramadhan dan Witirmu Bersama Imam

suhadi m sahli

Kabartabligh.com – Shalat tarawih atau qiyamu Ramadhan, shalat malam, dan shalat tahajud meskipun berbeda-beda namanya tetapi hakekatnya adalah sama, yaitu shalat sunah malam yang dikerjakan setelah shalat isya’ sampai terbit fajar. Jika dikerjakan sesudah isya’ di bulan Ramadhan umumnya dinamakan shalat qiyamu Ramadhan atau tarawih,  jika dikerjakan di luar bulan Ramadhan disebut shalat malam, dan jika dikerjakan sesudah tidur dinamkan shalat tahajud.

 

Kapan waktu shalat malam ?

Jumhur (kebanyakan) ulama menyatakan bahwa waktu pelaksanaan shalat malam dimulai setelah shalat Isya’ sampai dengan terbitnya fajar (shalat Subuh). Hal ini berdasarkan hadits :

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحُرِ. رواه الجماعة

“Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata: Pada setiap malam Rasulullah saw melaksanakan shalat witir di awal malam, pertengahan malam dan akhir malam, maka berakhirlah waktu shalat witir hingga waktu sahur (terbitnya fajar)”. [HR. al-Jama’ah]

 

عَنْ أَبِى سَعِيْدٍ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:أَوْتِرُوْا قَبْلَ اَنْ تُصْبِحُوْا.رواه الجماعة إلاّ البخارى وأبا داود

 

“Diriwayatkan dari Abu Sa’id, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Laksanakanlah shalat witir sebelum kamu mengalami waktu fajar”. [HR. al-Jama’ah, kecuali al-Bukhari dan Abu Dawud]

 

Jika anda ingin mendapatkan pahala shalat malam semalam sentuk,  maka tuntaskan dulu qiyamu ramadhan dan witirmu bersama imam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللهُ لَهُ بَقِيَّةَ لَيْلَتِهِ

 

 “Barang siapa salat malam bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) salat satu malam (penuh).” [HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain, Disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Tirmidzi ]

 

Dalam hadis yang lain disebutkan :

مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة
Barangsiapa yang berdiri (shalat) bersama imam sampai selesai, maka ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” Hadis tersebut shahih, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (no. 806), An-Nasa’i (no. 1605),

 

Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,

“Jika engkau salat tarawih bersama imam maka lebih afdlal, jika engkau salat witir bersamanya agar mendapat pahala yang sempurna (berupa pahala salat semalam suntuk).” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah jilid II 6/54]

 

Jadi menurut hadis tersebut meninggalkan shalat witir bersama imam adalah kurang tepat, karena jika tidak ikut shalat sampai selesai bersama imam, maka akan kehilangan pahala salat, semalam suntuk. Dan menurut fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah menjelaskan bahwa bila shalat qiyamu ramdhan (tarawih) bersama imam lebih afdhal dan bila witir bersama imam akan mendapat pahala shalat semalam sentuk.

 

Bagaimana dengan yang berpendapat bahwa shalat witir di akhir malam lebih afdhal daripada witir di awal malam ? mereka mendasarkan hadis sebagai berikut :

عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَيُّكُمْ خَافَ اَنْ لاَيَقُوْمَ مِنْ آَخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرُ ثُمَّ لِيَرْقُدُ وَمَنْ وَثَقَ بِقِيَامِ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْثِرُ مِنْ آخِرهِ فَإِنَّ قِرَأَة آخِرِ اللَّيْلَ مَحْضُوْرَةً وَذَلِكَ أَفْضَلُ. رواه أحمد ومسلم والترمذى وابن ماجه

 

Diriwayatkan dari Jabir, dari Nabi saw beliau bersabda; “Siapa di antaramu khawatir tak akan dapat bangun pada akhir malam, maka hendaklah ia shalat witir lalu tidur. Dan barang siapa percaya akan dapat bangun pada akhir malam, hendaklah ia shalat witir pada akhir malam itu, sebab akhir malam itu disaksikan malaikat dan hal itu lebih utama.” [HR. Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah]

 

Hadis tersebut menjelaskan perbandingan antara orang yang shalat witir di awal malam sebelum tidur karena kawatir tidak bisa bangun di akhir malam dengan orang yang melakukan shalat witir diakhir malam karena yakin bahwa dirinya nanti akan bisa bangun di akhir malam,  yang bisa melaksanakan shalat witir di akhir malam akan lebih baik daripada shalat witir di awal malam karena shalat malam diakhir malam itu disaksikan malaikat. Jadi bukan dibandingkan dengan shalat malam dan witir bersama imam sampai tuntas yang akan mendapatkan pahala sama dengan shalat malam semalam sentuk.

 

Bolehkah setelah melakukn witir di awal malam menambah shalat lail?

Mayoritas ulama membolehkan tetapi tidak mengulangi witir. seperti ulama-ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, pendapat yang masyhur di kalangan ulama Syafi’iyah dan pendapat ini juga menjadi pendapat An Nakho’i, Al Auza’i dan ‘Alqomah. Mengenai pendapat ini terdapat riwayat dari Abu Bakr, Sa’ad, Ammar, Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah. Dasar dari pendapat ini adalah sebagai berikut.

‘Aisyah menceritakan mengenai shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim no. 738)

 

Imam An-Nawawi berkata:

“Jika seseorang telah mengerjakan shalat witir kemudian ingin mengerjakan shalat sunah lagi pada malam harinya, hukumnya boleh dan tidak makruh, tetapi tidak mengulang salat witir lagi.” [5 Al-Majmu’ Syarh Al-Muahadzab 3/512 ]

 

Juga Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda:

 

عَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ.رواه أحمد وأبو داود والترمذى والنسائى

 

“Diriwayatkan dari Talq Ibn ‘Ali ia berkata: Saya mendengar Nabi saw bersabda: Tidak ada dua witir dalam satu malam.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasai]

 

عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا. رواه البخارى ومسلم وأحمد أبو داود

 

“Diriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi saw, beliau bersabda: Jadikanlah shalat witir sebagai akhir shalatmu di malam hari.” [HR. Muslim]

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ust. Suhadi M. Sahli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *