Workshop SITAMA, Muhammadiyah Surabaya Satukan Data dan Kalender Hijriah

Workshop SITAMA

Kabartabligh.com – Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya menggelar Workshop Sistem Informasi Tata Kelola Masjid (SITAMA) dan Sosialisasi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), Ahad (8/2/2026). Kegiatan yang berlangsung di SD Muhammadiyah 4 (MUDIPAT) Surabaya ini diikuti para takmir masjid Muhammadiyah se-Kota Surabaya.

Workshop tersebut menjadi bagian dari langkah strategis Persyarikatan dalam memperkuat tata kelola masjid yang lebih tertib, terintegrasi, dan berbasis digital, sekaligus menyamakan pemahaman mengenai implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal di lingkungan Muhammadiyah.

Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya, Ustadz Imam Sapari, S.H.I., M.Pd.I., menegaskan bahwa kegiatan ini memuat dua agenda besar yang menjadi pilar transformasi dakwah Muhammadiyah di era modern.

“Pertama adalah sosialisasi Kalender Hijriah Global Tunggal. Muhammadiyah telah berkomitmen memulai langkah peradaban baru melalui KHGT. Ini bukan sekadar soal penanggalan, tetapi ikhtiar menghadirkan kepastian dan persatuan umat Islam di tingkat global,” ujarnya.

Ia menekankan, sebagai ujung tombak dakwah di Kota Surabaya, para takmir dan penggerak masjid Muhammadiyah harus menjadi pihak yang paling awal memahami, meyakini, dan mampu menjelaskan urgensi KHGT kepada jamaah secara bijak dan berbasis keilmuan.

Agenda kedua, lanjut Imam Sapari, adalah Workshop Sistem Informasi Tata Kelola Masjid Muhammadiyah (SITAMA) sebagai respon atas tantangan dakwah di era digital. Menurutnya, dakwah tidak lagi cukup dikelola secara konvensional.

“Melalui SITAMA, kita sedang membangun ekosistem dakwah berbasis data. Kita ingin pemetaan mubaligh, jadwal kajian, hingga database dakwah Muhammadiyah di Surabaya terintegrasi dengan rapi. Dengan data yang akurat, dakwah akan lebih terukur, efektif, dan tepat sasaran,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Divisi Dakwah Digital Majelis Tabligh PDM Surabaya, Syahroni Nur Wachid, menjelaskan bahwa SITAMA berfungsi sebagai sistem pendataan masjid, jamaah, dan mubaligh Muhammadiyah di Kota Surabaya secara menyeluruh.

“SITAMA bukan hanya mendata masjid dan jamaah, tetapi juga mubaligh yang tergabung dalam Persyarikatan. Ini penting sebagai fondasi penguatan dakwah ke depan,” ujarnya.

Dalam sesi Workshop SITAMA oleh Syahroni Nur Wachid, peserta mendapatkan pendampingan teknis mulai dari registrasi akun hingga pengisian data masjid, muballigh, dan kegiatan pengajian. Proses pendaftaran mencakup masjid yang dikelola langsung oleh Persyarikatan, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), maupun masjid binaan.

Data yang diinput meliputi informasi alamat, kode pos, hingga fasilitas masjid seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), ketersediaan mukena dan sarung, toilet, serta tempat wudu. Penentuan lokasi masjid dilakukan melalui penyesuaian titik koordinat pada Google Maps sesuai dengan posisi bangunan yang sudah diajarkan oleh Hanif Rasyidu di sesi sebelumnya.

Menutup kegiatan, Imam Sapari menyampaikan harapannya agar Majelis Tabligh PDM Surabaya dapat menjadi motor penggerak dalam mensosialisasikan keputusan resmi Persyarikatan.

“Surabaya adalah kota pergerakan. Maka Majelis Tabligh harus menjadi lokomotif. Saya berharap, melalui workshop ini, tidak ada lagi keraguan dalam menjelaskan KHGT dan tidak ada lagi kendala teknis dalam mengoperasikan SITAMA,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya menargetkan seluruh masjid Muhammadiyah di wilayahnya terdata secara akurat dan terintegrasi, guna mendukung penguatan dakwah serta optimalisasi pelayanan umat di era digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *