Dakwah Profetik untuk Kemenangan Umat
Kabartabligh.com – Jalan dakwah adalah jalan pembebasan. Sebuah upaya memerdekakan manusia dari perbudakan hawa nafsu. Perjuangan untuk menjaga manusia agar tidak keluar dari jalan Tuhan.
Dakwah tidak cukup ceramah lantang di atas mimbar. Dakwah adalah seni tingkat tinggi. Seni memikat hati manusia agar mau menempuh jalan Tuhan meski terjal jauh dari standar kenyamanan duniawi.
Core activity dalam dakwah adalah amar makruf dan nahi munkar. Amar makruf relatif lebih mudah karena mengajak berbuat bajik. Berbeda dengan nahi mungkar, mencegah manusia berbuat kerusakan berisiko menghadapi tantangan dan perlawanan. Pelaku kerusakan identik dengan orang-orang jahat, mereka sudah terbiasa menyerang dan menyakiti sesama.
Oleh karena itu dakwah butuh strategi. Perlu ada desain dan rencana yang rapi agar dakwah bisa dieksekusi dengan mudah. Dakwah butuh sarana dan biaya. Sarana bisa berupa kekuasaan, aset, dan instrumen dakwah lainnya. Adapun biaya ibarat bahan bakar penggerak mesin dakwah, agar mesin tetap menyala dengan kondisi prima.
Setiap individu muslim memiliki tugas dakwah. Menjangkau lingkungan terdekat dan terkecil berdasarkan kemampuannya dengan pendekatan persuasif, keterampilan komunikasi yang baik, dan jika diperlukan berdebat dengan cara yang santun sebagaimana pesan Allah di QS. An-Nahl : 125.
Namun dakwah akan membuahkan hasil yang efektif dan masif manakala dakwah dilakukan secara kolektif. Dakwah yang di orkestrasi dan terorganisir secara rapi. Dakwah yang digerakkan oleh sistem serta didukung oleh peranti organisasi dan kekuasaan.
Melalui QS. Ali Imran ayat 104 Allah memberikan instruksi. Agar ada sekelompok manusia yang menjalankan misi dakwah secara kolektif atau berjamaah. Mereka mengarahkan manusia kepada kebajikan. Juga berupaya mencegah dan menciptakan kondisi agar manusia tidak berbuat kemungkaran.
Gerakan dakwah amar makruf nahi munkar merupakan fungsi kontrol moral. Tanpa kontrol moral, manusia bergerak di atas bumi seperti binatang, tidak tahu arah dan tidak kenal aturan.
Gelar khairu ummah (umat terbaik) Allah berikan kepada umat Rasulullah Muhammad. Predikat istimewa ini diberikan sebagai apresiasi atas keberanian mereka mengambil tanggung jawab sebagai penyeru kebaikan dan pencegah terjadinya kemungkaran QS. Ali Imran: 110.
Kualitas suatu umat tidak diukur berdasarkan prestasi duniawi. Standar mutu itu dinilai pada komitmen menjaga kehidupan manusia dengan spirit amar makruf dan nahi munkar.
Rasulullah mengatakan bahwa manakala ada yang melihat kemungkaran hendaklah berusaha melakukan perubahan dengan tangan, jika tidak mampu dengan tangan maka tegurlah dengan lisan, dan jika tidak mampu dengan lisan maka minimal dengan hati, dan itu adalah selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim No.49)
Karakter utama seorang mukmin dicirikan identik dengan amar makruf dan nahi munkar. Allah katakan bahwa laki-laki dan perempuan yang beriman saling menjadi penolong satu sama lain.
Mereka berkomitmen menegakkan salat dan menunaikan zakat. Mereka aktif bergerak mempromosikan kebaikan. Gerak langkahnya selalu waspada terhadap potensi kerusakan oleh tangan manusia (QS. At-Taubah: 71).
Antitesa dari karakteristik mukmin adalah munafik. Dalam QS. At-Taubah ayat 67 Allah membongkar kedok mereka. Kaum munafik justru menyeru kepada kemungkaran dan mencegah kebaikan. Bisa disimpulkan bahwa amar makruf dan nahi munkar menjadi indikator status keimanan seseorang.
Umat yang meninggalkan misi ini patut dipertanyakan kualitas keimanannya.
Dakwah amar makruf nahi munkar akan berhadapan dengan para penentang. Harta dan nyawa dipertaruhkan.
Sebagaimana Rasulullah di tolak di mekah, diusir dari yastrip, di embargo ekonominya, di persekusi ramai-ramai oleh warga seluruh kota. Namun Allah menyeru pegiat dakwah untuk bersabar dan memaafkan.
QS. Al-A’raf :199 “Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. Imam Al-Ghazali menetapkan tiga karakteristik pegiat dakwah, yaitu dimilikinya ilmu, integritas moral, dan akhlak mulia.
Syekh Shafiyurrahman Al Mubarakfury menyatakan bahwa kejayaan umat era permulaan Islam melalui tiga siklus. Pertama, Rasulullah menyatukan sahabat ansor dan muhajirin. Kedua, Rasulullah membangun pasar sebagai pusat ekonomi. Dan ketiga, Rasulullah membangun pemerintahan politik yang Islami.
Hal ini selaras dengan janji Allah dii penghujung QS. Ali Imran 104, Allah menutup ayat dengan pernyataan bahwa kemenangan dan kejayaan sebagai buah dakwah kolektif yang terorganisir berbasis jamaah dan persatuan.
Dalam perspektif Islam progresif, dakwah tidak sebatas talaqqi dengan hanya mendalami agama tanpa aksi nyata. Dakwah juga bersifat haraki berupa aksi nyata sebagaimana KH. Ahmad Dahlan memotori gerakan pembaruan yang memadukan kemurnian akidah, pemikiran rasional, amal sosial, dan kemandirian umat.
Itulah dakwah profetik, dakwah yang mencerahkan dan menghidupkan ala pengikut Rasulullah. Gerakan yang mengajak umat bersatu di jalan dakwah.
Bergerak bersama memajukan umat dengan jihad dalam bidang pendidikan, sosial, konstitusi, ekonomi, dan politik. Sehingga kejayaan umat menjadi kenyataan.
Penulis Syafi’ur Rahman

