MEMPERBAIKI KETURUNAN: KRISIS AKIDAH YANG SERING DIABAIKAN

nashihuddin

Oleh: Muhammad Nashihudin, M.Si
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
Anggota Majelis Tabligh PWM DKI Jakarta

Kabartabligh.com – Hari ini, banyak orang tua merasa sudah “menunaikan kewajiban” ketika anaknya disekolahkan di tempat terbaik, difasilitasi gadget tercanggih, dan dipenuhi kebutuhan materi. Namun sedikit yang bertanya secara jujur: bagaimana keadaan akidah anak-anak kita?

Islam sejak awal menempatkan persoalan ini sebagai isu utama. Bahkan para nabi pun menjadikan keturunan sebagai medan dakwah terakhir sebelum wafat. Nabi Ya’qub ‘alaihis salam, menjelang kematiannya, tidak menanyakan warisan dunia, melainkan bertanya tentang iman anak-anaknya:

اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَآءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْ

“Apakah kamu menjadi saksi ketika Ya‘qub didatangi kematian, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?’”
(QS. Al-Baqarah: 133)

Pertanyaan ini adalah tamparan keras bagi orang tua muslim hari ini. Sebab, bisa jadi kita sibuk menyiapkan masa depan dunia anak, tetapi lalai memastikan arah iman mereka.

Pendidikan Anak: Antara Formalitas dan Substansi

Banyak keluarga muslim terjebak pada formalitas pendidikan agama. Anak bisa membaca Al-Qur’an, hafal doa-doa pendek, bahkan berprestasi di sekolah Islam, namun akidahnya rapuh ketika berhadapan dengan arus pemikiran sekuler, relativisme moral, dan budaya permisif.

Al-Qur’an menegaskan bahwa pendidikan akidah harus menjadi prioritas utama, sebagaimana nasihat Luqman al-Hakim kepada putranya:

يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman: 13)

Nasihat ini sederhana, tetapi fundamental. Sebab kerusakan terbesar dalam keluarga bukanlah kemiskinan, melainkan rusaknya tauhid.

Ancaman Nyata: Generasi Lemah Iman

Al-Qur’an secara tegas memperingatkan bahaya meninggalkan generasi yang lemah:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah…”
(QS. An-Nisa’: 9)

Ayat ini sering dibaca dalam konteks ekonomi. Padahal, kelemahan iman dan akhlak jauh lebih mengkhawatirkan. Anak yang lemah iman mudah terseret arus, mudah meremehkan dosa, dan mudah menjauh dari masjid serta dakwah.

Ironisnya, generasi seperti ini sering lahir dari keluarga yang secara materi berlimpah, tetapi miskin keteladanan spiritual.

Doa Orang Tua: Antara Rutinitas dan Kesungguhan

Islam mengajarkan bahwa mendidik anak tidak cukup dengan usaha lahiriah. Doa adalah pilar utama. Lihat bagaimana para nabi selalu melibatkan doa ketika berbicara tentang keturunan.

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdoa:

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang tetap melaksanakan shalat.”
(QS. Ibrahim: 40)

Shalat bukan hanya ibadah personal, tetapi penjaga moral dan benteng keluarga. Rumah tangga yang abai terhadap shalat akan rapuh menghadapi godaan zaman.

Bahkan ketika Nabi Ibrahim meninggalkan sebagian keluarganya di lembah tandus, doanya tetap berporos pada shalat dan syukur:

رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ
(QS. Ibrahim: 37)

Keluarga: Jalan Menuju Surga atau Sebaliknya

Allah menggambarkan ciri hamba-hamba Ar-Rahman, salah satunya adalah perhatian serius terhadap keluarga:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ
(QS. Al-Furqan: 74)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa qurrata a’yun bukan berarti keluarga yang sekadar membanggakan secara duniawi, tetapi keluarga yang taat kepada Allah.

Al-Hasan Al-Bashri berkata:

“Tidak ada yang lebih menyejukkan hati seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat kepada Allah.”

Ini mengoreksi standar kebahagiaan modern yang sering diukur dengan prestasi dan popularitas.


Penutup: Saatnya Introspeksi Kolektif

Memperbaiki keturunan bukan proyek sesaat, melainkan amal panjang yang menentukan keselamatan akhirat. Orang tua boleh bangga dengan capaian dunia anaknya, tetapi jangan lalai memastikan mereka mengenal Allah, mencintai shalat, dan dekat dengan Al-Qur’an.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ…

“Apabila anak Adam wafat, terputus amalnya kecuali tiga perkara, salah satunya anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Anak saleh tidak lahir dari kelalaian, tetapi dari kesadaran iman, keteladanan, dan doa yang terus dijaga.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *