Mencela Waktu adalah Bentuk Menyakiti Sang Pencipta

masjid gunungsari indah

Kabartabligh.com – Salah satu penyakit akidah yang sering tidak disadari oleh umat Islam adalah kebiasaan mencela waktu. Ungkapan seperti “hari ini apes”, “bulan ini sial”, atau “tahun ini penuh kesialan” kerap meluncur ringan dari lisan, padahal di balik itu tersimpan persoalan tauhid yang serius. Islam memandang waktu bukan sekadar angka di kalender, tetapi bagian dari ciptaan Allah yang berada sepenuhnya dalam kekuasaan-Nya.

Dalam kajian tauhid, ditegaskan bahwa manusia hidup dalam batasan ruang dan waktu. Allah ﷻ berfirman:

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْـًٔا مَّذْكُورًا
“Bukankah telah datang kepada manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
(QS. Al-Insan: 1)

Ayat ini menegaskan bahwa waktu telah ada sebelum manusia diciptakan. Manusia bisa ada dan tiada, berganti generasi demi generasi, tetapi waktu tetap berjalan sesuai ketetapan Allah. Tahun berganti 2026, 2036, bahkan hingga kiamat semua berada dalam genggaman-Nya.

Waktu Bukan Sumber Kesialan

Islam secara tegas melarang umatnya mencaci maki waktu. Bahkan, dalam sebuah hadis qudsi, Allah ﷻ menyampaikan peringatan keras:

يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَا الدَّهْرُ
“Anak Adam menyakiti-Ku dengan mencaci maki waktu, padahal Akulah Penguasa waktu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa mencela waktu bukanlah perkara sepele. Ketika seseorang menyalahkan hari, bulan, atau tahun atas kegagalannya, sejatinya ia sedang melontarkan tuduhan kepada Allah sebagai Pengatur waktu itu sendiri. Inilah warisan pemikiran jahiliyah yang bertentangan dengan kemurnian tauhid.

Sayangnya, sisa-sisa tradisi ini masih hidup di tengah masyarakat: menganggap bulan Safar membawa kesialan, Syawal tidak baik untuk menikah, atau bulan Suro sebagai waktu pantangan memulai usaha. Semua ini tidak memiliki dasar dalam Islam, bahkan berpotensi merusak akidah.

Manusia yang Merugi, Bukan Waktu

Allah ﷻ bersumpah dengan waktu dalam Surah Al-‘Ashr:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–2)

Perhatikan dengan cermat: yang dinyatakan rugi adalah manusia, bukan waktu. Waktu bersifat netral. Ia tidak membawa celaka atau berkah dengan sendirinya. Keuntungan dan kerugian sepenuhnya bergantung pada iman dan amal manusia.

Bulan Ramadhan, misalnya, adalah bulan penuh keberkahan. Namun, tidak sedikit orang yang tetap merugi karena menyia-nyiakannya dengan kelalaian. Sebaliknya, bulan yang sering dicap “tidak baik” justru bisa menjadi pintu kemuliaan bagi orang-orang yang beriman dan produktif dalam amal saleh.

Menyalahkan waktu sejatinya adalah bentuk pelarian dari tanggung jawab. Islam mengajarkan umatnya untuk melakukan muhasabah diri, bukan mencari kambing hitam pada kalender.

Memuliakan Waktu dengan Amal

Islam memang mengenal adanya bulan-bulan mulia. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا … مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya empat bulan haram.”
(QS. At-Taubah: 36)

Bulan-bulan haram Zulqa’dah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab dimuliakan oleh Allah. Namun, pemuliaan ini bukan berarti bulan lain hina atau membawa sial. Justru, di bulan-bulan mulia tersebut, manusia dituntut lebih berhati-hati agar tidak menzalimi diri sendiri dengan dosa, karena pahala dan dosa dilipatgandakan.

Membersihkan Akidah dari Takhayul

Mencela waktu, percaya pada hari sial, dan takut pada mitos zaman adalah tanda lemahnya tauhid. Seorang mukmin sejati memandang setiap detik sebagai amanah dari Allah, bukan sebagai ancaman. Waktu adalah ladang amal, bukan musuh kehidupan.

Sudah saatnya umat Islam membersihkan akidah dari segala bentuk takhayul dan keyakinan jahiliyah. Tidak ada hari buruk bagi orang yang bertawakal, dan tidak ada bulan sial bagi mereka yang menegakkan iman dan amal saleh. Yang ada hanyalah manusia yang bijak memanfaatkan waktu atau menyia-nyiakannya.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang memuliakan waktu dengan ketaatan, bukan mencelanya dengan keluhan. Wallāhu a‘lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *