Mengambil Jeda di Tengah Tekanan Hustle Culture
Kabartabligh.com – Kita hidup di tengah badai hustle culture, budaya yang menekankan kerja keras tanpa henti, produktivitas tinggi, dan pencapaian kesuksesan sebagai prioritas tertinggi. Dalam budaya ini kita dituntut kerja serba cepat, serba sibuk, dan serba tenggat waktu. Bangun pagi sudah digempur notifikasi.
Sepanjang hari kerja mengejar target dan deadline. Malam pun seringkali masih membalas email dan bahkan kerja overtime. Bahkan diakhir pekan seringkali tidak bisa istirahat karena tuntutan pekerjaan. Hustle culture memaksa bergerak lebih cepat, berbuat lebih banyak, dan mendaki piramida sukses posisi paling puncak.
Hidup ditengah hustle culture menyebabkan mudah lelah akal dan mental. Data BPS menunjukkan 67% Gen Z terlalu fokus kerja sehingga waktu untuk diri sendiri terabaikan. Di Jepang ada fenomena “Karoshi” yaitu kematian akibat terlalu banyak bekerja. Bekerja keras boleh, tapi kesehatan mental dan spiritual perlu diperhatikan.
Rasulullah dalam keseharian sangat sibuk. Sebagai kepala negara, panglima tertinggi militer, dan pemandu spiritual umat beliau super sibuk. Manakala merasa penat dan lelah dalam perjuangan beliau berkata kepada Bilal bin Rabah, “Arihna bissholah”, istirahatkan kami dengan sholat.
Rosulullah mengajarkan bahwa ibadah sholat adalah tempat istirahat. Sholat bukan dipandang sekedar kewajiban apalagi beban, tetapi ruang rehat sejanak dari hiruk pikuk kehidupan yang serba cepat. Bermunajat dalam sholat menghilangkan penat. Bernaungnya hati dalam dzikir yang agung, menjadi sumber inspirasi bagi hati yang bingung.
Sebagaimana Allah maklumatkan dalam Ar-Ra’d ayat 28 bahwa hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram
Sholat adalah slow living versi spiritual. Lima kali sehari kita dipanggil untuk berhenti. Dari rapat, dari transaksi, dan dari distraksi. Kita berdiri dengan sadar, rukuk dengan tenang, sujud dengan hening.
Di dalamnya ada tumakninah, berhenti sejenak di antara satu gerakan dengan gerakan lainnya. Tidak tergesa-gesa. Tidak seperti orang yang dikejar sesuatu. Bahkan sholat bisa batal jika tumakninah ditinggalkan. Seolah Allah menegaskan bahwa ketenangan bukan pelengkap ibadah, tetapi inti ibadah itu sendiri.
Dalam membaca Al-Qur’an pun dikenal konsep waqof, yaitu berhenti sejenak di sela-sela ayat atau pada bagian tertentu dalam ayat. Melalui filosofi waqof Alloh mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an perlu jeda. Jeda waqof memberi ruang untuk bernapas dan membiarkan makna dan hikmah meresap dalam jiwa.
Membaca Al-Qur’an tidak perlu tergesa-gesa agar ia menghadirkan oase ketenangan dan menjadi obat bagi hati dan jiwa. Sebagaimana filosofi jawa, “obat ati moco qur’an angen-angen sak maknane”, salah satu obat hati adalah membaca Al-Qur’an sambil merenungkan maknanya.
Demikian juga Rosulullah dibimbing Alloh agar pelan-pelan dan tidak tergesa-gesa dalam membaca Al-Qur’an sebagaimana diabadikan di Surah Al-Qiyamah ayat 16.
Dalam siklus tahunan, Allah juga merancang sistem jeda. Sistem itu bernama Ramadhan. Jeda tahunan yang menghimpun kembali energi spiritual dan emosional. Ia seperti charging station ruhani di tengah hiruk pikuk kehidupan sepanjang tahun yang melelahkan.
Kita memasuki ramadhan dengan jiwa yang lelah oleh ambisi dan distraksi duniawi, lalu perlahan di-setting ulang agar kembali fokus sesuai tujuan penciptaan, menjadi hamba dan khalifah di bumi sebagaimana Allah abadikan di surah Adz-Dzariyat ayat 56 dan Al-Baqoroh ayat 30.
Adapun bekal utama untuk merealisasikan dua misi penciptaan itu bekalnya adalah takwa. Oleh karenanya, di surah Al-Baqoroh ayat 83 ditegaskan target dari puasa Ramadhan adalah mentransformasi input “mukmin” menjadi output “muttaqin”.
Selain siklus tahunan Alloh juga merancang sistem jeda bulanan, puasa ayyamul bidh. Ada pula jeda dalam siklus pekanan, puasa sunnah senin dan kamis. Untuk jeda harian Alloh menyediakan fasilitas berupa sholat rowatib. Untuk jeda dengan intensitas tinggi sebagai pelengkap jeda harian ada puasa daud. Puasa dengan siklus puasa sehari puasa sehari berbuka. Puasa ala Nabi Daud memiliki keistimewaan tersendiri, ia di sebut sebagai puasa yang paling di cintai Alloh.
Sholat, tumakninah, waqof, dan puasa mengajarkan kita untuk mengambil jeda. Berhenti sejenak, menahan diri, dan melakukan evaluasi untuk kemudian kembali melangkah lebih jauh dan lebih terarah. Jeda sesaat memungkinkan kita berpikir lebih jernih. Mendinginkan akal dan hati dari panasnya hawa dunia.
Menghubungkan ulang hati dan jiwa dengan server jagat raya Allah SWT. Sehingga kita tidak terjebak pada hustle culture, budaya hiruk pikuk yang berpotensi menjauhkan manusia dari sang penciptanya.

