Tetap Otentik di Era Lipstik

syafi

Kabartabligh.com – Tren terbaru menunjukkan pergeseran gaya hidup di tengah tekanan ekonomi yang melanda dunia. Meski ekonomi sedang melandai, eksistensi di platform digital masih memiliki prioritas tinggi bagi sebagian orang.  Mereka tetap berusaha memikat perhatian meski dengan polesan, pencitraan, dan rekayasa visual.

Di ruang digital, mereka tidak hanya berbagi momen hidup dalam story, tetapi mengkurasi dan mengeditnya agar tampak lebih indah, lebih kaya, dan lebih bahagia. Tren ini ini melahirkan budaya “tampak” yang memuja eksistensi semu. Laiknya lipstik yang menjadi sarana memoles citra luar meski kantong sedang tidak baik-baik saja.

Fenomena ini bermula dari “lipstick Effect” yang mulai muncul awal 200an. Fenomena budaya pura-pura “lipstik” ini telah menjadi wabah mental global. Di Tiongkok muncul fenomena “Shanghai Ladies”, kelompok yang menyewa barang-barang mewah seperti tas branded, mobil sport, bahkan hotel bintang lima agar terlihat kaya. Di Amerika Serikat, tren “shopping haul” di platform seperti YouTube, Instagram dan TikTok mendorong konsumerisme performatif.

Di Indonesia, kecenderungan ini sebagaimana data 2025 dari Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan sekitar 60% Gen Z dan 50% milenial memiliki pola pengeluaran yang “lebih besar pasak daripada tiang”. Layanan paylater melonjak untuk kebutuhan gaya hidup seperti gadget, fashion, kopi kekinian, dan tiket konser.

Banyak anak muda terjebak utang demi menjaga estetika media sosial agar tidak dianggap tertinggal (FOMO). Psikolog klinis meneyebutnya “coping mechanism”, yaitu upaya seseorang agar merasa tetap memiliki kendali dan status sosial di tengah tekanan ekonomi sebagai simbol kompensasi psikologis.

Perilaku palsu ini telah mendapat atensi dari Alloh. Melalui Al-Qur’an mengingatkan bahaya pencitraan kosong dalam QS. Al-Ma’un 4-6 : “Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.”. Sholat palsu saja beresiko celaka di akhirat apalagi perbuatan lainnya. Rasulullah pun telah mengingatkan bahaya riya sebagai syirik kecil, sebuah bentuk kepalsuan spiritual yang paling halus.

Dalam Sahih Muslim disebutkan simbol kepalsuan dunia itu bernama Dajjal, sosok yang membawa ilusi besar, menampilkan yang batil sebagai kebenaran dan yang buruk sebagai kebaikan. Kepalsuan akhir zaman bukan hanya dusta biasa, tetapi manipulasi persepsi massal dan bahkan dalam skala global.

Jika manusia telah terbiasa hidup dengan filter, pencitraan, dan identitas semu, maka ia lebih rentan tertipu oleh kepalsuan yang lebih besar. Oleh karena itu di penghujung tasyahud akhir kita berdoa agar dihindarkan  dari fitnah Dajjal.

Ulama seperti Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa riya adalah penyakit hati yang paling sulit dikenali karena ia menyamar dalam kebaikan. Riya’ sebagai wujud kepalsuan dan pencitraan. Alloh telah memberikan penangkal dari penyakit topeng dan kepalsuan.  Penangkal kepalsuan itu adalah ikhlas yang berarti bersih dan murni hanya karena Alloh semata. Ikhlas berarti bersih, orisinal, apa adanya dan otentik.

Otentik dalam Islam berarti kesatuan antara hati, lisan, dan perbuatan. Ikhlas dalam islam berarti murni dalam niat, berharap balasan hanya kepada Alloh. Tidak mencari pujian, validasi, dan pengakuan manusia. Penangkal ini paling efektif menjaga dari pengaruh Dajjal maupun setan sebagaimana Alloh dalam QS. Sad: 82-83 “Iblis berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlashīn (yang dimurnikan/ikhlas) di antara mereka.’”

Menjadi otentik di era lipstik berarti berani hidup tanpa topeng, mengurangi kebutuhan validasi, dan meluruskan niat dalam setiap amal orisinal hanya karena Alloh semata. Dunia mungkin menilai dari tampilan, tetapi Allah menilai dari hati dan amal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *