Karakter Hipokrit, Luka Sosial Bangsa

Kabartabligh.com – Hipokrit sikap tidak selaras antara ucapan dan perbuatan bukanlah fenomena asing di tengah masyarakat kita. Ia muncul pada diri Muslim maupun non-Muslim, sadar atau tidak, menyusup ke dalam perilaku sehari-hari. Hipokrisi membuat seseorang memandang sesuatu dengan “miring” (looking sideways), sehingga penilaian tidak utuh, kritik tidak tepat, dan nasihat kehilangan ketulusan. Lebih parah lagi, ucapan yang keluar dari lisan sering tidak linier dengan tindakan nyata.
Fenomena ini terjadi di berbagai lapisan masyarakat Indonesia, dari pejabat, tokoh publik, hingga pemuka agama. Padahal, Al-Qur’an sudah mengingatkan secara keras:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ. كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Saff: 2-3)
Antara Ucapan dan Tindakan
Baru-baru ini publik dikejutkan oleh kasus korupsi yang menjerat pejabat tinggi. Ironisnya, dalam berbagai kesempatan ia lantang menyerukan agar pemimpin berlaku jujur, peka terhadap rakyat, serta bahkan mengusulkan hukuman mati bagi koruptor. Namun akhirnya, dirinya sendiri terjerat praktik pemerasan dan ditangkap KPK.
Hal serupa tidak jarang terjadi di kalangan tokoh agama. Ada yang menasihati umat agar jujur, amanah, rendah hati, dan menahan nafsu, tetapi ketika berhadapan dengan godaan, justru tergelincir ke arah sebaliknya. Padahal, mereka lebih tahu ancaman Allah dalam Al-Qur’an dan hadits.
Ukuran Kemuliaan
Rasulullah Saw menegaskan bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada akhlaknya, bukan pada retorikanya.
وَعَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ؟ قَالَ: “أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا”
“Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?” Beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad)
Lebih jauh, akhlak baik mampu mengangkat derajat seorang hamba meski ibadahnya sederhana, sebaliknya akhlak buruk dapat menyeretnya ke jurang neraka walau ia ahli ibadah.
“إِنَّ الْعَبْدَ لَيَبْلُغُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ الْآخِرَةِ وَشَرَفَ الْمَنَازِلِ، وَإِنَّهُ لَضَعِيفُ الْعِبَادَةِ. وَإِنَّهُ لَيَبْلُغُ بِسُوءِ خُلُقِهِ دَرَك جَهَنَّمَ وَهُوَ عَابِدٌ”
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar dapat mencapai derajat yang tinggi di akhirat dengan akhlak yang baik, meskipun ia lemah dalam ibadah. Dan sesungguhnya ia bisa terjerumus ke dasar neraka dengan akhlak yang buruk, meskipun ia ahli ibadah.” (HR. Thabrani)
Muhaasabah Sebelum Mengkritik
Dari sinilah pentingnya muhaasabah (introspeksi diri). Sebelum mengkritik orang lain, sebaiknya kita bercermin: apakah diri kita sudah benar, atau justru lebih menyimpang? Dengan begitu, kritik dan nasihat tidak menjadi bumerang, melainkan diterima sebagai cahaya yang menuntun.
Bangsa ini hanya bisa kuat apabila warganya menjauhi karakter hipokrit dan membangun akhlak mulia (khuluq kariim). Jika tidak, kita akan terus terjebak dalam lingkaran kepura-puraan yang merusak sendi kepercayaan sosial.
وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ
Oleh: Sarojo Hafizh, SH
Pemerhati Karakter Sosial