KEBAIKAN LAHIR DARI KETULUSAN
Ngaji Dino Iki # 2006
KEBAIKAN LAHIR DARI KETULUSAN
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Human beings are unique; some do good out of sincerity, while others pretend to be good out of necessity.
(“Manusia itu unik, ada yang berbuat baik karena ketulusan, dan ada yang berpura-pura baik karena keperluan.”)
Ramadhan, bulan kesalehan sosial ini sebenarnya menguji kita, apakah setiap kebaikan ikhlas karena Allah swt, atau sibuk pamer kebaikan di media sosial.
Balasannya tergantung apa yang diniatkan seperti yang disabdakan Rasulullah saw.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Shahih Bukhari 1: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan”.
Ibnul Qayyim memberikan panduan:
“Tanda amal yang ikhlas adalah kesetiaan hati untuk tetap berbuat baik tanpa peduli siapa yang melihatnya.”
Allah swt berfirman dalam hadits Qudsi:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ لِي عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ غَيْرِي فَأَنَا مِنْهُ بَرِيءٌ وَهُوَ لِلَّذِي أَشْرَكَ
Sunan Ibnu Majah 4192: “Allah ‘azza wajalla berfirman; Aku adalah dzat yang tidak membutuhkan sekutu, maka barangsiapa mengerjakan suatu amalan dengan menyertakan sekutu selain diri-Ku, maka Aku berlepas diri darinya, dan ia milik sekutu yang disertakannya itu.”
Puasa mengajarkan kita memurnikan niat, bahwa kebaikan sejati lahir dari ketulusan, bukan pencitraan.
Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dari sahabatmu
Dr. Imam Syaukani, M.A.
Wakil ketua PDM Surabaya

