Tragedi Pelajar di Muratara, Pesan Penting untuk Orang Tua: Ajari Anak Mengelola Emosi

Kabartabligh.com – Peristiwa tragis mengguncang warga Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Seorang siswa kelas 4 SD berinisial JN (9) menusuk leher pelajar kelas dua MTs, RI (13) menggunakan gunting hingga korban meninggal dunia. Insiden mengenaskan ini terjadi pada Senin (11/8/2025) dan sontak membuat publik prihatin.

Kasus ini menyoroti kembali masalah perilaku agresif pada anak. Menurut Yogi Kusprayogi, M.Psi., Psikolog, perilaku agresif tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan bisa berkembang karena beberapa faktor.

Pertama, perilaku dipelajari, yaitu ketika anak terbiasa menghadapi masalah dengan cara debat atau cekcok menggunakan nada tinggi. Kedua, perilaku dikuatkan, misalnya saat anak marah lalu dituruti semua keinginannya, sehingga ia belajar bahwa kemarahan adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Ketiga, perilaku diimitasi, di mana anak meniru perilaku orang terdekat, teman sebaya, lingkungan sekitar, atau tontonan yang dikonsumsinya.

Yogi juga menambahkan bahwa perilaku marah hingga berbuat agresif bisa dipicu oleh stres berkepanjangan atau tantrum yang tidak ditangani sejak kecil dan akhirnya terbawa hingga usia remaja bahkan dewasa.

Tragedi di Muratara ini menjadi pengingat bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk lebih memperhatikan perkembangan emosi anak. Pendekatan disiplin yang konsisten, komunikasi yang sehat, serta pengawasan terhadap lingkungan pergaulan dan konsumsi media sangat penting untuk mencegah perilaku agresif sejak dini.

Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait motif dan kronologi lengkap kejadian ini. Namun, para ahli menegaskan, membangun kontrol emosi dan keterampilan sosial pada anak harus dimulai sedini mungkin, sebelum amarah berubah menjadi tindakan yang tak bisa diperbaiki.

Cara Melatih Emosi Anak

Melatih anak sejak kecil agar mampu mengontrol emosi bukan hanya soal “menahan marah”, tapi membentuk keterampilan mengelola perasaan, memahami situasi, dan merespons dengan bijak. Kuncinya adalah membangun kesadaran diri (self-awareness) dan keterampilan regulasi emosi (emotional regulation) sejak dini.

Berikut langkah-langkahnya:

1. Bangun Pemahaman Emosi

  • Kenalkan kosa kata emosi: Ajari anak menyebutkan perasaan (“sedih”, “kesal”, “takut”, “bangga”) sehingga mereka bisa mengidentifikasi apa yang mereka rasakan.

  • Gunakan buku cerita atau film anak untuk berdiskusi, “Menurut kamu dia merasa apa? Kenapa?”

2. Latih Self-Awareness

  • Ajarkan anak mengenali tanda-tanda tubuh saat emosi muncul (misalnya napas cepat, wajah panas, tangan mengepal saat marah).

  • Gunakan metode “pause”: berhenti sebentar sebelum bereaksi, misalnya dengan hitungan 1–10 atau menarik napas dalam.

3. Berikan Contoh (Modeling)

  • Anak meniru perilaku orang tua. Jika orang tua mengelola emosi dengan tenang, anak akan belajar cara serupa.

  • Saat orang tua marah, katakan: “Ayah/Ibu lagi marah, jadi ayah/ibu mau tarik napas dulu supaya bisa bicara dengan tenang.”

4. Gunakan Metode “Cooling Down”

  • Sediakan “pojok tenang” di rumah — bukan sebagai hukuman, tapi tempat untuk menenangkan diri.

  • Berikan aktivitas menenangkan: menggambar, meremas bola stres, atau memeluk boneka.

5. Ajarkan Problem Solving

  • Setelah emosi mereda, ajak anak mencari solusi: “Apa yang bisa kita lakukan supaya masalahnya selesai?”

  • Ini melatih anak berpikir logis setelah emosinya terkendali.

6. Validasi Perasaan

  • Jangan langsung berkata “Jangan marah” atau “Jangan sedih”.
    Lebih baik: “Ibu tahu kamu marah karena mainanmu diambil. Itu wajar, tapi kita cari cara yang baik untuk mengatasinya.”

  • Validasi membuat anak merasa dimengerti dan tidak merasa salah karena punya emosi.

7. Latih dengan Simulasi

  • Gunakan permainan peran (role play) untuk melatih respon dalam situasi memicu emosi, misalnya “teman mengejek” atau “menunggu giliran”.

  • Dengan latihan berulang, anak membentuk kebiasaan respon yang sehat.

8. Jaga Lingkungan yang Konsisten

  • Anak butuh aturan jelas dan konsisten agar merasa aman.

Lingkungan rumah yang penuh kasih sayang dan bebas kekerasan mempercepat perkembangan kontrol emosi.

Panduan 30 Hari Latihan Kontrol Emosi Anak

(Usia 5–12 tahun, bisa disesuaikan)

Minggu 1 — Mengenal Emosi

Tujuan: Anak bisa mengenali dan menyebutkan perasaannya.

Hari Aktivitas Penjelasan
1 Poster Emosi Cetak/gambar wajah dengan berbagai ekspresi (senang, sedih, marah, takut). Tempel di kamar dan ajak anak menunjuk emosi yang dia rasakan hari ini.
2 Cerita Perasaan Bacakan cerita bergambar, lalu tanyakan “Tokoh ini merasa apa?”
3 Cermin Emosi Anak bercermin lalu mencoba ekspresi wajah sesuai perasaan tertentu.
4 Warna Perasaan Anak memilih warna untuk menggambarkan perasaannya (contoh: merah=marah, biru=sedih).
5 Jurnal Emosi Sederhana Anak menggambar atau menulis singkat “Hari ini aku merasa…”
6 Tebak Emosi Bermain tebak ekspresi wajah antara orang tua dan anak.
7 Refleksi Mingguan Tanyakan: “Emosi apa yang paling sering kamu rasakan minggu ini?”

Minggu 2 — Menenangkan Diri

Tujuan: Anak tahu cara menurunkan emosi yang memuncak.

Hari Aktivitas Penjelasan
8 Tarik Napas Bunga Bayangkan mencium bunga (tarik napas) lalu meniup lilin (hembuskan).
9 Hitung 1–10 Saat marah, anak belajar menghitung pelan-pelan sebelum merespons.
10 Pojok Tenang Siapkan sudut rumah dengan bantal, buku, atau mainan lembut untuk menenangkan diri.
11 Peluk Diri Ajari anak memeluk dirinya sambil tarik napas dalam.
12 Lagu Tenang Putar musik lembut saat anak mulai kesal.
13 Gambar Lepas Emosi Anak menggambar bebas untuk menyalurkan rasa marah atau sedih.
14 Refleksi Mingguan Tanyakan: “Cara apa yang paling bikin kamu cepat tenang?”

Minggu 3 — Menyampaikan Emosi dengan Baik

Tujuan: Anak mampu mengungkapkan perasaan tanpa melukai orang lain.

Hari Aktivitas Penjelasan
15 Kalimat “Aku Merasa…” Ajari format: “Aku merasa ___ karena ___.”
16 Main Peran 1 Latih menghadapi teman yang mengejek.
17 Main Peran 2 Latih menolak ajakan yang tidak disukai.
18 Latihan Volume Suara Bedakan bicara pelan, normal, dan keras sesuai situasi.
19 Surat Perasaan Anak menulis surat (boleh dengan gambar) untuk menyampaikan emosi.
20 Cerita Pengalaman Minta anak ceritakan momen dia marah/senang minggu ini dan bagaimana dia menghadapinya.
21 Refleksi Mingguan Tanyakan: “Bagaimana rasanya kalau kita bicara dengan kata-kata yang baik?”

Minggu 4 — Memecahkan Masalah

Tujuan: Anak belajar mencari solusi setelah emosinya terkendali.

Hari Aktivitas Penjelasan
22 Brainstorming Solusi Pilih masalah kecil, ajak anak mencari 3 cara menyelesaikannya.
23 Lihat dari Sudut Orang Lain Ceritakan situasi dan tanyakan “Kalau kamu jadi dia, bagaimana rasanya?”
24 Kartu Pilihan Siapkan kartu berisi opsi tindakan (bicara, minta tolong, diam, dll.)
25 Main Peran Negosiasi Latih anak berbicara untuk mencapai kesepakatan.
26 Cerita Inspiratif Bacakan kisah tokoh yang sabar dan bijak.
27 Latihan “Berhenti-Pikir-Lakukan” Ajari langkah: berhenti → pikirkan solusi → lakukan pilihan terbaik.
28 Refleksi Mingguan Tanyakan: “Solusi apa yang paling membantu minggu ini?”

Minggu 5 — Penguatan Kebiasaan

Tujuan: Mengulang dan memperkuat semua keterampilan.

Hari Aktivitas Penjelasan
29 Permainan Ulangan Gabungkan semua latihan dari minggu 1–4.
30 Perayaan Kecil Beri penghargaan (sertifikat atau pujian) atas kemajuan anak.

Tips untuk Orang Tua:

    • Gunakan pujian spesifik: “Kamu hebat bisa menenangkan diri sebelum bicara.”

    • Lakukan latihan secara konsisten di waktu yang sama (misalnya sore hari).

    • Hindari memarahi saat anak gagal, fokus pada memberi kesempatan mencoba lagi.

Hadits tentang Orang yang Kuat

diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. al-Bukhari no. 6114, Muslim no. 2609)

Maknanya:

  • Kekuatan sejati menurut Islam bukan sekadar kekuatan fisik, tapi kekuatan jiwa.

  • Orang yang sabar dan mampu menahan amarah menunjukkan kendali diri dan kematangan iman.

  • Dalam konteks akhlak, ini termasuk bagian dari kesabaran karena ia menahan diri dari tindakan tergesa-gesa saat emosi.

Dalam hadits, Rasulullah ﷺ memberi beberapa langkah praktis untuk meredakan marah, yang bersifat fisik dan spiritual. Berikut ringkasannya:

1. Membaca Ta’awwudz

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ، وَلْيَقُلْ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam, dan mengucapkan: A‘ūdzu billāhi minas-syayṭānir-rajīm.”
(HR. Ahmad 1/239, Abu Dawud no. 4782)

2. Mengubah Posisi

Hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu:

Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika salah seorang dari kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika kemarahan belum reda, berbaringlah.”
(HR. Abu Dawud no. 4782)

Makna: Mengubah posisi membuat otot rileks dan menurunkan ketegangan.

3. Berwudhu

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, sedangkan api dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu.”
(HR. Abu Dawud no. 4784)

4. Diam dan Tidak Membalas

Nabi ﷺ bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.”
(HR. Ahmad 1/239)

Makna: Diam mencegah ucapan yang menyesal di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *