Membangun Karakter Mulia Melalui Adab Makan: Pembelajaran Abadi dari Nabi Muhammad SAW

Kabartabligh.com – Pendidikan adab makan adalah fondasi penting dalam pembentukan karakter seorang Muslim. Lebih dari sekadar serangkaian etiket, perilaku makan yang Islami sarat akan makna spiritual, yaitu penghormatan terhadap rezeki dan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Ironisnya, masih banyak individu, baik anak-anak maupun orang dewasa, yang belum sepenuhnya menginternalisasi dan mempraktikkan etika makan ini. Padahal, mengajarkan adab makan sejak dini adalah investasi berharga untuk melahirkan generasi yang berakhlak terpuji.

Dalam tuntunan Islam, setidaknya terdapat tiga prinsip dasar adab makan yang wajib diajarkan dan dibiasakan: mengucapkan “bismillah” sebelum bersantap, mengonsumsi makanan dengan tangan kanan, dan mengambil hidangan dari bagian yang terdekat. Ketiga prinsip ini tidak hanya sekadar teori, melainkan telah dicontohkan secara nyata oleh suri teladan kita, Nabi Muhammad SAW, sebagaimana terekam dalam riwayat para sahabat beliau.

Dalil-Dalil dan Kisah Inspiratif

Salah satu riwayat paling gamblang datang dari sahabat agung, ‘Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkisah:

كُنْتُ غُلاَمًا فِى حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَكَانَتْ يَدِى تَطِيشُ فِى الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Artinya: “Ketika aku masih seorang bocah dalam asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanganku seringkali bergerak-gerak (menyentuh) hidangan di nampan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat darimu.’ ‘Umar bin Abi Salamah kemudian menyatakan, فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ (Sejak itu, demikianlah cara makanku seterusnya).” (HR. Bukhari, no. 5376 dan Muslim, no. 2022. Lihat penjelasan dalam Fath Al-Bari, 9:522).

Kisah ini menyoroti perhatian luar biasa Rasulullah SAW terhadap detail terkecil dalam adab makan, bahkan pada diri seorang anak. Nasihat beliau yang disampaikan dengan penuh kasih namun tegas, segera diresapi oleh ‘Umar bin Abi Salamah dan membentuk kebiasaan baiknya sepanjang hidup.

Anjuran untuk makan menggunakan tangan kanan semakin dipertegas dalam riwayat lain yang tercantum dalam Shahih Muslim:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

Artinya: “Apabila salah seorang dari kalian makan, hendaklah ia makan dengan tangan kanannya. Dan jika ia minum, hendaklah ia minum dengan tangan kanannya. Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2020).

Hadis ini secara eksplisit mengaitkan penggunaan tangan kanan saat makan dan minum sebagai pembeda dari praktik setan. Ini bukan sekadar preferensi, melainkan sebuah penekanan akan urgensi membedakan diri dari perilaku yang tidak diridai Allah.

Bahkan, terdapat sebuah kisah yang menggambarkan konsekuensi pahit bagi mereka yang menolak mengamalkan adab ini karena kesombongan, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim:

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

Artinya: “Seorang laki-laki pernah makan di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ Ia malah menjawab, ‘Saya tidak bisa.’ Beliau bersabda, ‘Sungguh kamu tidak bisa?’–ia menolak karena kesombongan–. Setelah itu, tangannya tidak pernah bisa mencapai mulutnya.” (HR. Muslim, no. 2021).

Kisah ini menjadi peringatan tegas bahwa sikap angkuh dalam menolak sunah Nabi dapat berujung pada balasan setimpal.

Pelajaran Berharga Adab Makan bagi Orang Tua

Dari penuturan hadis-hadis tersebut, Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim, serta Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari, merumuskan beberapa poin krusial yang dapat menjadi pedoman bagi para orang tua:

  • Mengucapkan Basmalah (Tasmiyyah): Memulai makan dengan menyebut nama Allah adalah ekspresi syukur dan permohonan keberkahan atas makanan yang dinikmati.
  • Makan dengan Tangan Kanan: Ini adalah tuntunan sunah yang membedakan kita dari kebiasaan setan.
  • Mengambil Makanan dari Area Terdekat: Menghindari menjangkau makanan dari bagian yang jauh atau di hadapan orang lain adalah manifestasi kesopanan dan menjaga murah (wibawa). Khususnya saat menyantap hidangan berkuah, sangat penting untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan orang di sekitar.

Lebih lanjut, hadis-hadis ini juga mengajarkan bahwa:

  • Kita harus senantiasa berupaya untuk tidak meniru kebiasaan setan dan kaum kafir.
  • Setan memiliki kemampuan untuk makan, minum, mengambil, dan memberi, namun dengan cara yang bertentangan dengan ajaran agama.
  • Diperbolehkan mendoakan hal buruk bagi individu yang secara sombong menentang hukum syariat.
  • Pentingnya mengamalkan amar makruf nahi mungkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran), termasuk dalam konteks adab makan.
  • Sangat dianjurkan untuk membiasakan anak-anak dengan adab makan dan minum sejak usia dini.
  • Kisah ‘Umar bin Abi Salamah menggarisbawahi keindahan sikap seorang anak yang taat dan segera mengamalkan perintah Rasulullah SAW.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, terutama kepada buah hati kita, agar mereka dapat memahami dan mengaplikasikan adab makan sesuai bimbingan Rasulullah SAW. Dengan demikian, mereka akan bertumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia dan senantiasa diberkahi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *