Safari Subuh Perdana di Masjid Syuhada Ramah Center, Jamaah Diajak Segera Bertaubat Sebelum Terlambat

Kabartabligh.com – Langit pagi Kota Surabaya masih menyisakan semburat gelap ketika satu per satu jamaah mulai memenuhi Masjid Syuhada Ramah Center (SRC), Ahad (7/6/2026). Usai menunaikan shalat Subuh berjamaah, jamaah yang hadir mengikuti Kajian Perdana Safari Subuh Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya.

Suasana terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Kegiatan ini menjadi titik awal program Safari Subuh yang akan digelar secara bergilir di masjid-masjid Muhammadiyah se-Kota Surabaya sebagai bagian dari penguatan dakwah dan pembinaan umat.

Lukman Rahim Ketua Takmir MSRC

Ketua PCM Wonokromo, Lukman Rahim, dalam sambutannya memperkenalkan identitas baru masjid yang kini dikenal sebagai Masjid Syuhada Ramah Center (SRC).

Menurutnya, nama Syuhada sudah sangat dikenal di lingkungan Muhammadiyah, khususnya di kawasan Ngagel dan Wonokromo. Karena terdapat beberapa masjid dengan nama serupa, diperlukan sebuah identitas yang mampu menjadi pembeda tanpa menghilangkan nilai historis yang telah melekat.

“Kami menghadirkan branding Masjid Syuhada Ramah Center sebagai pusat dakwah yang ramah bagi jamaah, musafir, kader, santri Al-Qur’an, serta berbagai aktivitas pembinaan umat lainnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa konsep “Ramah Center” merupakan ikhtiar menjadikan masjid sebagai pusat pelayanan dan pemberdayaan umat yang berkemajuan.

Dalam kesempatan tersebut, Lukman juga menegaskan bahwa program Safari Subuh merupakan komitmen Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya dalam menghidupkan dakwah masjid dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di kalangan warga Muhammadiyah.

Memasuki sesi kajian, Ustadz Muhammad Barid mengangkat tema tentang taubat nasuha, sebuah tema yang menurutnya selalu relevan sepanjang kehidupan manusia.

Ia menjelaskan bahwa secara bahasa, taubat berarti kembali. Sedangkan menurut syariat, taubat adalah kembali dari kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah SWT dengan penuh penyesalan, meninggalkan dosa, serta bertekad tidak mengulanginya lagi.

Menurut Barid, Allah SWT memerintahkan seluruh orang beriman untuk senantiasa bertaubat sebagaimana firman-Nya:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS An-Nur: 31)

“Ayat ini menunjukkan bahwa taubat bukan hanya diperuntukkan bagi pelaku dosa besar, tetapi merupakan kebutuhan seluruh orang beriman,” ujar Barid.

Ia melanjutkan dengan membacakan firman Allah SWT tentang perintah melakukan taubat yang sungguh-sungguh:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS At-Tahrim: 8)

Menurutnya, taubat nasuha adalah taubat yang dilakukan dengan ikhlas, penuh penyesalan, meninggalkan dosa, dan tidak memiliki keinginan untuk kembali melakukannya.

Barid juga mengingatkan bahwa orang yang bertaubat mendapatkan kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.

Ia membacakan firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS Al-Baqarah: 222)

“Betapa besar rahmat Allah. Orang yang bertaubat bukan hanya diampuni dosanya, tetapi juga dicintai oleh Allah SWT,” tuturnya.

Dalam kajian tersebut, Barid juga menyampaikan hadis Rasulullah SAW yang menunjukkan pentingnya memperbanyak istighfar.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari.” (HR Muslim)

Menurutnya, jika Rasulullah SAW yang maksum saja beristighfar seratus kali setiap hari, maka umatnya tentu jauh lebih membutuhkan taubat dan istighfar.

Ia juga mengutip hadis Nabi SAW:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR Tirmidzi)

Dalam penjelasannya, Barid menyebutkan lima syarat taubat nasuha, yaitu ikhlas karena Allah, menyesali dosa yang telah dilakukan, segera meninggalkan dosa tersebut, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi, serta mengembalikan hak atau meminta maaf apabila dosa tersebut berkaitan dengan sesama manusia.

Ia mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajal akan datang. Karena itu, menunda taubat merupakan sebuah kerugian besar.

Sebagai penutup, Barid mengajak jamaah memperbanyak istighfar dan memanjatkan doa yang pernah dibaca Nabi Adam AS setelah melakukan kesalahan:

Ya Tuhan kami, kami telah berbuat zalim terhadap diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihani kami, niscaya kami akan termasuk golongan orang-orang yang rugi.

“Ya Tuhan kami, kami telah berbuat zalim terhadap diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihani kami, niscaya kami akan termasuk golongan orang-orang yang rugi.” (Surah Al-A’raf: 23)

Kegiatan studi yang berlangsung setelah shalat Subuh ini ditutup dengan shalat berjamaah. Safari Subuh pertama di Masjid Pusat Syuhada Ramah ini bukan hanya agenda dakwah rutin, tetapi juga momentum untuk menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat pengembangan masyarakat, tempat setiap Muslim memperkuat imannya dan menemukan jalan kembali kepada Allah SWT.

Dari fajar yang menyingsing di Masjid SRC, pesan taubat kembali menggema: pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi hamba-Nya yang mau kembali sebelum terlambat.

Penulis Syahroni Nur Wachid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *