Majelis Tabligh PDM Surabaya Sosialisasikan Diksuspala TPA Surabaya
Kabartabligh.com – Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya menyosialisasikan fokusnya Diksuspala TPA dari 11 program Lembaga Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur’an Muhammadiyah (LPTPAMu) di SD Muhammadiyah 4 Surabaya (Mudipat), Ahad (18/10/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah penguatan tata kelola Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Muhammadiyah sekaligus peningkatan kualitas pendidikan Al-Qur’an bagi generasi muda.
Dalam sambutannya, Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya Imam Sapari SHI MPdI mengingatkan bahwa tantangan pendidikan anak pada era sekarang semakin kompleks. Karena itu, pengelola dan guru TPA harus memperkuat peran dalam menjaga akidah, membimbing ibadah, serta membentuk karakter santri.
“Anak di era sekarang sudah tidak baik-baik saja. Maka, kita sebagai garda depan dalam menjaga akidah dan ibadah mereka harus maksimal dalam program dan gerakan,” pesannya.
Ia juga mendorong pengelola TPA agar tidak menjalankan pendidikan Al-Qur’an sekadarnya. Menurutnya, kepala TPA memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola lembaga sehingga membutuhkan kemampuan manajerial dan kompetensi yang memadai.
“Kepala TPA itu mirip kepala sekolah. Jadi, harus dikelola secara profesional dan didukung tenaga yang terlatih,” ujarnya.
Semangat tersebut, lanjutnya, sejalan dengan prinsip man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.
11 Program untuk Memajukan TPA Muhammadiyah
Dalam sosialisasi tersebut, Majelis Tabligh PDM Surabaya memaparkan 11 program pengembangan LPTPAMu. Program ini mencakup penguatan kelembagaan, peningkatan kompetensi pendidik, pengembangan metode pembelajaran, hingga apresiasi terhadap capaian santri.
Sebelas program tersebut meliputi:
- Mendirikan Muhammadiyah Qur’anic Center (MQC).
- Mengembangkan metode membaca Al-Qur’an.
- Menyusun kurikulum TPA.
- Mewujudkan program satu Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) satu Rumah Tahfidz.
- Menambah dan mengembangkan sekolah qari.
- Menyelenggarakan Diksuspala TPA Muhammadiyah.
- Mengadakan diklat tim munaqis LPTPAMu.
- Membentuk Forum Kepala TPA Muhammadiyah (FK-TPAMu).
- Menyelenggarakan munaqasyah dan wisuda santri setiap tahun.
- Mendorong keseragaman seragam guru dan santri.
- Mengembangkan TPA unggul serta mengikutsertakannya dalam pawai kirab pada Festival Anak Sholeh Muhammadiyah (FASHMU).
Melalui program diksuspala tersebut, pengembangan TPA tidak hanya berorientasi pada kemampuan santri membaca Al-Qur’an. Penguatan administrasi, standardisasi pembelajaran, kompetensi pendidik, dan evaluasi capaian belajar juga menjadi perhatian.
Diksuspala TPA Digelar di Trawas
Salah satu agenda utama yang menjadi fokus sosialisasi adalah Pendidikan dan Pelatihan Khusus Kepala TPA Muhammadiyah (Diksuspala TPAMu) se-Surabaya.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 5–6 Desember 2026 di Hotel New Start, Trawas. Setiap cabang Muhammadiyah diarahkan mengirimkan tiga peserta untuk mengikuti pelatihan tersebut.
Selain pelatihan, panitia merencanakan penyediaan tautan pendaftaran dan pendataan profil TPA. Langkah ini diharapkan membantu pemetaan lembaga, kondisi pengelolaan, serta kebutuhan pembinaan TPA Muhammadiyah di Surabaya.
Diksuspala tersebut diharapkan membekali kepala TPA dengan kemampuan mengelola lembaga secara lebih profesional, mulai dari administrasi, pendataan santri, penyusunan kurikulum, hingga pengembangan program pembelajaran.
Dengan demikian, kepala TPA tidak hanya berperan sebagai pengajar Al-Qur’an, tetapi juga sebagai pemimpin lembaga pendidikan yang mampu merencanakan, menjalankan, dan mengevaluasi program secara berkelanjutan.
Legalitas hingga Ijazah Santri Jadi Sorotan
Sesi diskusi menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi dalam pengelolaan TPA masing-masing. Sejumlah isu yang mengemuka meliputi administrasi lembaga, legalitas, kurikulum, kompetensi guru, dan standardisasi program.
Muhammad Barid menyampaikan pengalaman TPA Al-Fath Bratang Binangun yang menggunakan metode Ummi. Ia menyoroti persoalan 16 santri yang belum pernah mengikuti proses secara lengkap terkait ijazah Ummi. Peserta juga menyinggung pentingnya pendaftaran nomor unit TPA ke Kementerian Agama.
Sementara itu, TPA Al-Firdaus Pagesangan menyoroti kebutuhan pendataan santri, penerbitan surat keputusan (SK), dan penyusunan kurikulum. Pertanyaan mengenai pihak yang berwenang menerbitkan SK TPA juga mengemuka dalam diskusi.
Peserta dari TPA Al-Istiqomah turut menyinggung informasi dan pembinaan yang bersumber dari Kementerian Agama. Adapun persoalan seragam guru dan santri menjadi perhatian tersendiri, khususnya mengenai apakah keseragaman tersebut bersifat wajib atau merupakan bagian dari program pengembangan.
Diskusi juga menyinggung peluang guru TPA untuk berperan sebagai pendidik di sekolah Muhammadiyah. Hal ini membuka ruang pembahasan tentang peningkatan kompetensi guru serta sinergi antara pendidikan Al-Qur’an dan pendidikan formal.
Berbagai masukan tersebut menunjukkan pentingnya pendampingan yang lebih terstruktur. Pengelola TPA membutuhkan kejelasan prosedur administrasi, informasi legalitas, pedoman pembelajaran, serta komunikasi program yang menjangkau seluruh kepala TPA.
Kembangkan Rumah Dakwah dan Kaderisasi Dai
Selain membahas pengelolaan TPA, peserta menyampaikan gagasan pengembangan dakwah di tingkat kecamatan.
Rumah Dakwah Sukolilo, misalnya, mengemukakan gagasan pengembangan Akademi Dai di Kecamatan Sukolilo. Dalam diskusi yang sama, muncul pula informasi mengenai kesiapan pembentukan ranting Muhammadiyah baru di kawasan Pumpungan dengan potensi 16 anggota.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan pendidikan Al-Qur’an dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kader dakwah dan perluasan gerakan Muhammadiyah di tingkat akar rumput.
Melalui sosialisasi ini, Majelis Tabligh PDM Surabaya mendorong agar pengembangan TPA tidak berhenti pada kegiatan belajar membaca Al-Qur’an. Lembaga pendidikan Al-Qur’an juga perlu memiliki tata kelola yang tertib, tenaga pendidik yang kompeten, serta program pembinaan yang terukur.
Dengan penguatan kelembagaan dan peningkatan kualitas pembelajaran, TPA Muhammadiyah diharapkan semakin mampu menjadi ruang pembentukan akidah, ibadah, dan akhlak generasi muda.
Penulis: Syahroni Nur Wachid

