Sa’ad Ibrahim Ungkap Dua Jenis Kebanggaan, Apa Bedanya?
KABARTABLIGH.COM – Kebanggaan terhadap pencapaian diri dapat menjadi dorongan untuk terus berkembang. Namun, kebanggaan juga bisa berubah menjadi kesombongan ketika seseorang merasa lebih baik daripada orang lain.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. KH. Sa’ad Ibrahim, M.A., dalam Kajian Ahad Pagi Pencerah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya di SD Muhammadiyah 15 Surabaya, Ahad (25/10/2026).
Dalam kajian tersebut, Sa’ad Ibrahim mengaitkan ajaran Al-Qur’an dengan konsep kebanggaan (pride) dalam psikologi. Ia menjelaskan dua jenis kebanggaan, yaitu authentic pride dan hubristic pride, yang memiliki kecenderungan berbeda dalam memengaruhi perilaku seseorang.
Kebanggaan yang Mendorong Produktivitas
Authentic pride merupakan kebanggaan yang tumbuh dari pencapaian dan usaha nyata. Jenis kebanggaan ini dapat mendorong seseorang menjadi lebih dinamis, berorientasi pada masa depan, dan produktif.
Kebanggaan tersebut membuat seseorang menghargai proses yang telah dilalui tanpa harus merendahkan pencapaian orang lain. Keberhasilan menjadi motivasi untuk terus belajar, memperbaiki kekurangan, dan menghasilkan karya yang lebih baik.
Dalam konteks kehidupan umat Islam, sikap ini dapat menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dengan demikian, mengakui keberhasilan bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Hal terpenting ialah menjaga agar kebanggaan tersebut tetap disertai kerendahan hati dan tanggung jawab.
Ketika Kebanggaan Berubah Menjadi Kesombongan
Berbeda dengan authentic pride, hubristic pride berkaitan dengan perasaan superior atau anggapan bahwa diri sendiri lebih unggul daripada orang lain.
Sikap ini dapat membuat seseorang sulit menerima kritik, kurang menghargai orang lain, dan merasa tidak perlu memperbaiki diri. Akibatnya, keberhasilan justru berpotensi menjauhkan seseorang dari sikap rendah hati.
Perbedaan kedua jenis kebanggaan tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan sekadar bagaimana seseorang memandang pencapaiannya, melainkan juga bagaimana ia memperlakukan orang lain setelah berhasil.
Karena itu, seseorang perlu mengevaluasi sikapnya ketika memperoleh prestasi, kepercayaan, atau kedudukan. Keberhasilan semestinya menjadi kesempatan untuk meningkatkan kontribusi, bukan alasan untuk merasa paling unggul.
Al-Qur’an Mengajarkan Keteguhan Iman
Pembahasan mengenai kebanggaan tersebut sejalan dengan pesan Surah Ali Imran ayat 139 yang berbunyi:
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.”
Ayat tersebut mengingatkan umat Islam agar tidak kehilangan semangat ketika menghadapi kesulitan. Pada saat yang sama, keberhasilan juga perlu disikapi secara bijaksana agar tidak melahirkan kesombongan.
Sa’ad Ibrahim turut memberikan gambaran melalui sejarah perjuangan Rasulullah saw. Dalam Perang Badar, kaum Muslimin memperoleh kemenangan. Sementara itu, dalam Perang Uhud, mereka mengalami kekalahan.
Kedua peristiwa tersebut memberikan pelajaran bahwa kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari perjalanan perjuangan. Keduanya tidak semestinya menjadi ukuran tunggal untuk menilai kehormatan seseorang.
Pesan ini menegaskan pentingnya membangun kebanggaan yang sehat, menjaga keteguhan iman, dan terus memperbaiki diri. Dengan begitu, pencapaian dapat menjadi sumber motivasi untuk berkarya dan memberikan manfaat, bukan pintu menuju kesombongan. (*)

